Daerah

Masyarakat NTB Waspadai Potensi Kekeringan Meteorologis

Mataram, Talikanews.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Lombok Barat merilis dasarian I Juli sesuai update 10 Juli bahwa, terdapat hujan dengan kategori Rendah (< 50 mm/dasarian) dengan curah hujan tertinggi terjadi di Perigi Lombok Timur sebesar 37 mm/dasarian.

Sifat Hujan pada umumnya di bawah normal kecuali, pulau Lombok bagian Timur, Sumbawa Barat, dan Kabupaten Bima bagian Utara yang sifat hujannya atas normal.

“Untuk harian tanpa hujan (HTH) terpanjang terpantau di Alas Barat (74 Hari) dan Kabupaten Sumbawa,” ungkap Kasi Datin , BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Luhur.

Dia menjelaskan, dari monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut – turut di sebagian besar di Pulau Lombok khususnya bagian Timur pada umumnya dalam kategori Pendek (6 – 10 Hari), itu akibat adanya hujan yang turun di awal Dasarian I Juli. Sementarq untuk di wilayah lainnya di NTB pada umumnya kategori panjang (21 – 30 Hari) hingga kategori kekeringan Ekstrim (>60 Hari).

Hal itu disebabkan oleh kondisi dinamika atmosfer ENSO saat ini berada pada kondisi normal. Sementara itu, kondisi Suhu Muka Laut di perairan NTB menunjukan kondisi lebih dingin dibandingkan normalnya.

Analisis angin menunjukkan Angin Timuran, masih mendominasi di wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan mengurangi peluang terjadinya hujan di wilayah NTB. Pergerakan Madden Jullian Oscillation (MJO) saat ini tidak aktif.

Untuk probabilitas curah hujan dasarian II Juli 2019 lanjutnya, pada dasarian II Juli 2019 peluang terjadinya curah hujan sangat kecil sebesar < 10 persen untuk terjadinya hujan > 20 mm/dasarian.
Sehingga, peringatan dini kekeringan meteorologis perlu diwaspadai potensi kekeringan meteorologis di daerah dengan Hari Tanpa Hujan > 60 hari pada wilayah Lombok Timur ( Sambelia), Sumbawa Barat (Brang Ene), Sumbawa (Rhee, Buer, Batulanteh, Sumbawa, Moyo Hilir, Lape, Alas Barat), Dompu (Woja, Kempo, Hu’u, Kilo, Pajo), Bima (Palibelo, Tambora, Wawo, Wera, Belo, Bolo, Woha, Sape, Parado, Palibelo), Kota Bima (Raba, Asakota Kolo).

Adapun dampak, dengan masuknya puncak Musim Kemarau dan berkurangnya curah hujan, masyarakat dihimbau agar waspada dan berhati – hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti potensi kekeringan, kekurangan air bersih, dan potensi kebakaran lahan khususnya pada daerah – daerah rawan kekeringan dan daerah dengan HTH >60 Hari.

“Kita lebih menekankan agar masyarakat lebih waspada dampak kekeringan tersebut,” tutupnya. (TN-04).

Tags

Related Articles

Back to top button