Sosial

Ahli Tsunami Sebut Potensi Gempa 8,5 Magnitudo Ada, Tapi Bukan Di Selatan Lombok

Mataram, Talikanews.com – Ahli Tsunami Indonesia, Gegar Prasetya menanggapi kondisi yang membuat warga Lombok khususnya di Lombok Tengah resah akibat hasil riset profesor asal Amerika Rolland A Harris.

Dimana, sapaan Ron Haris menyampaikan adanya potensi gempa di laut selatan Lombok minimum 9,0 magnitudo dan maksimum mencapai 9,5 magnitudo bahkan berpotensi tsunami sampai pada ketinggian 20 meter.

Diruang tunggu Sekretaris Daerah Setda NTB. Sapaan Gegar itu justru membenarkan juga bahwa ada potensi gempa di sesar Selatan berekuatan maksimum 8,5 magnitudo. Akan tetapi, potensi yang dimaksud, tidak berpatokan pada Selatan Lombok saja melainkan kondisi patahan sesar Selatan wilayah Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara yang mencapai 500 kilo meter. Begitupun dengan potensi tsunami akan berada dalam ketinggian hingga 20 meter belum juga ia benarkan seutuhnya.

Menurut Gegar, Ilmu ke gempaan itu dinamis, tergantung dari temuan baru para peneliti misalnya seperti di wilayah gap Sumba dan Jawa (tepatnya selatan Lombok) kekuatan hanya 7,8 magnitudo, namun sekarang direvisi menjadi maksimal 8,5 magnitudo.

Kondisi itu berdasarkan data Pusat Gempa Nasional (Pusgen) khusus wilayah selatan ada revisi Magnitudo pada tahun 2010 berpotensi hingga 7,8 M namun pada 2017 lalu, hasil revisi terbaru menjadi 8,5 magnitudo.

“Memang potensi itu ada, tapi bisa terjadi bisa juga tidak, karena gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadinya,” ungkap Gegar, Rabu (10/7).

Terkait dengan potensi tsunami sendiri pun akan berbeda ketinggiannya. Karena harus melihat reologi atau karakteristik dari zona subduksi masing-masing lempeng di wilayah tersebut. Tidak hanya itu, yang perlu dilihat juga ketinggian lempeng termasuk apakah wilayah pesisir pantai tersebut tanahnya datar atau perbukitan.

Perlu juga dilihat berapa kedalaman sumber gempa tersebut, jika sampai ratusan kilo meter maka hal itu perlu diwaspadai. Biasanya setelah beberapa saat gempa BMKG akan mengeluarkan pernyataan resmi yang isinya tingkat kedalaman.

“Untuk melihat ketinggian tsunami itu banyak hal diperhatikan. Misalnya waktu, kedalaman dan kawasan pesisir pantai apakah ada perbukitan atau tidak,” kata dia.

Ia juga melihat hasil simulasi yang dilakukan BMKG itu hanya menggunakan asumsi uniform. Semua patahan lempeng Selatan itu runtuh padahal kondisi sesar Selatan tidak sama dari Sumatera hingga Sumba alias patahannya tidak rata.

“Kalau sesuai asumsi BMKG itu patahanya runtuh maka ketinggian tsunami itu akan mengancam semua daerah tidak hanya di Lombok saja,” terang pria yang juga ketua Ikatan Ahli Tsunami Indonesia itu.

Putra asli NTB yang sengaja di undang pemerintah daerah ini mengaku, dirinya belum melakukan penelitian di perairan selatan Lombok. Namun, jika melihat kondisi tanah perbukitan maka ketinggian gelombang tsunami akan terhalangi oleh perbukitan itu. Hanya saja, jika ada pesisir pantai yang datar maka disarankan bangunan tinggi yang akan dibangun harus betul betul tahan gempa karena hal itu bisa membantu kawasan pemukiman dibelakangnya.

Disinggung dengan potensi tsunami sampai ketinggian 20 meter? Gegar dalam hal ini masih belum bisa membenarkan hal itu sebab harus dilakukan penelitian lebih jauh.

Sebelumnya BMKG juga menyampaikan rilis resmi dimana pihaknya membenarkan ada potensi gempa dan Tsunami di Selatan Lombok namun tidak ada yang bisa mengetahui kapan itu terjadi bahkan sampai saat ini belum ada satu negara dengan kecanggihan teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa terjadi.

Sebagai instansi resmi yang bisa membrikan informasi kejadian gempa bumi dan Tsunami berharap agar masyarakat NTB agar tetap tenang namun harus tetap waspada dalam upaya pengurangan resiko bencana.

Begitu halnya ahli geologi dari Brigham Young University Amerika Profesor Ronald Haris, memaparkan tentang pergerakan zona subduksi di wilayah perairan Selatan Lombok sesuai hasil riset menemukan ada potensi gempa bumi berkekuatan minimum 9,0 magnitudo.

Potensi tersebut, jika dilepaskan maka akan berdampak terjadinya tsunami setinggi 20 meter.

Harris juga menjelaskan setiap tahun lempeng bumi di selatan Lombok tertekan dan bergeser oleh lempeng Indo-Australia Eurasia sepanjang 35 meter. Bila lempeng ini tidak bisa menahan tekanan akan menyebabkan gempa megathrust dengan kekuatan minimal 9 Magnitudo dan maksimal 9,5 Magnitudo.

Ronald juga mengatakan maksimal gempa yang di hasilkan dari patahan di wilayah Selatan Lombok mencapai 9,5 Magnitudo dan menyebabkan tsunami setinggi 20 meter. Ada juga zona subduksi di wilayah Selatan Lombok yang memanjang hingga pulau Sumatera menunjukan meningkatnya aktivitas seismik.

Pernyataan itu berdasarkan hasil penelitian dan riset di wilayah Selatan Lombok bahwa pernah terjadi gempa besar pada 500 sampai 1000 tahun lalu sehingga mengakibatkan stunami, dan saat ini ada aktivitas seismik yang meningkat di wilayah tersebut, membuat ia mengimbau masyarakat harus waspada lebih pada mitigasi. (TN-04)

Related Articles

Back to top button