Sosial

Prof Rolland A Haris : Waspada, Tsunami Di Lombok Selatan

Mataram, Talikanews.com – Gempa Bumi berkekuatan minimal 9,0 Magnitudo akan terjadi di wilayah Lombok bagian selatan. Hal itu disampaikan oleh peneliti gempa asal Amerika, Prof Rolland A Harris, saat seminar increasing and strenghtening the ability of local population and government agencies to prepared disaster, di Universitas Nahdatul Ulama NTB, Mataram Kamis (4/7).

Ahli geologi dari Brigham Young University (BYU) Amerika itu menjelaskan, potensi terhadap gempa trust minimal 9,0 Magnitudo akan terjadi di laut selatan Lombok. Gempa itu berasal dari pulau jawa, kalau pun demikian, belum diketahui lokasi apakah Lombok, Bali atau Jawa bagian timur.

“Yang jelas Lombok terdampak tsunami 3 – 4 kilometer tepat pinggir pantai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok. Tsunami ini pernah terjadi ratusan tahun lalu kalaupun jangkauan pendek, kini diperkirakan terjadi lagi,” kata dia.

Rolland mengaku, hal ini bisa diketahuinya berdasarkan penelitian dengan menggunakan beberapa metode riset, sesmigep. Dimana, lokasi yang pernah dilanda gempa kemungkinan tetap terjadi gempa namun skala kecil.

Sedangkan wilayah atau lokasi yang tidak pernah terjadi gempa malah akan terjadi berkekuatan besar dan kemungkinan terjadinya di wilayah selatan bahkan terajdi tsunami. Itu semua hasil permodelan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration).

Dimana, NOAA adalah singkatan dari nama sebuah departemen pemerintah Amerika yang bertanggung jawab atas pengendalian program diatas (the National Oceanic and Atmospheric Administration).

“Posisi sesar itu saat ini, tidur bangkit tidur bangkit dan sedang masuk siklus (fase) bangkit yang kemungkinan bisa terjadi kapan saja. Kalau secara geologi memang belum diketahui kapan terjadinya,” papar Rolland.

Terkait hal itu, Rolland mengaku sudah memberikan rekomendasi pembangunan Mandalika tahun 2017. Saat itu langsung bertemu pihak ITDC kemudian berikan rekomendasi supaya siapkan papar informasi berupa jalur evakuasi, lokasi evakuasi dengan ketinggian minimal 20 meter, terakhir lokasi evakuasi harus lebih besar dari jumlah penduduk.

Adanya hal itu, dirinya menghimbau kepada semua masyarakat supaya waspada.

“Memang, kapan kekuatan Magnitudo itu dilepaskan belum diketahui, yang jelas sedang menunggu dan harus waspada,” tegasnya.

Metode lain, sudah menemukan dua endapan bekas tsunami. Pertama 500 tahun dan ke dua 1000 tahun lalu, sejak itu tidak pernah terjadi tsunami. Sehingga, berdasarkan data itu, siklusnya 500 tahun sekali.

“Memang tidak tepat, namun masa bangkitnya sedang ada sehingga harus waspada,” ujar dia.

Rolland juga memaparkan mengenai lempeng Indo-Australia. Dimana, terjadi pergerakan sebanyak 7 cm /pertahun, sekarang sudah terkumpul sebanyak 35 meter. Jika dilepaskan maka sudah cukup energi melepaskan 9,0 magnitudo.

“Bicara Lempeng tektonik Indonesia itu dari Sumatera sampai Sumbawa,” cetusnya.

Dia menambahkan, kerusakan lempeng yang terbesar terjadi di bagian yang tidak berada pada batuan yang kuat. Sehingga disebut siklus zonasi merah kuning hijau dan itu akan berdampak parah.

Tidak hanya itu saja lanjutnya, dirinya menggunakan simulasi VS 30 yakni melakukan pengukuran dengan simple 2-conductor wire connects the geophones to the computer. Dekat sistem seismik eksplorasi permukaan, kadang-kadang disebut seismograf teknik, digunakan untuk respons lokasi gempa, survei rippability, kedalaman-ke-lapisan dasar, eksplorasi air tanah, bahaya geologi, survei refleksi dangkal, survei gelombang geser dan analisis multi-channel gelombang permukaan MASW.

“MASW ini merupakan simulasi gempa bumi, rekam tanah terhadap getaran, bisa catat sampai 30 meter kedalam, belum sampai likuifaksi,” tuturnya.

Dia juga menuturkan, pernah tinjau Lombok Utara dan mampir di SMKN 1 Pemenang karena informasi ada patahan, waktu di kroscek lebih ke arah tanah terjadi pelebaran tanah.

“Intinya waspada, harus segera berikan ilmu mitigasi ke masyarakat. Memang, kapan waktunya belum bisa dipastikan akan tetapi, akan ada gempa itu,” tutupnya.(TN-04)

Related Articles

Back to top button