Sosial

Gubernur NTB : Isu Mega Trust Gempa Hanya Uji Mental

Mataram, Talikanews.com – Gubenur NTB, Dr Zulkieflimansyah angkat bicara terkait statemen ahli geologi dari Brigham Young University (BYU) Amerika, Prof Rolland A Harris, yang menyebutkan bahwa akan ada potensi Mega trust gempa mencapai 9,0 magnitudo di laut selatan Lombok.

Bagi sapaan Dr Zul itu menyebutkan bahwa isu tersebut sangat bagus supaya mental masyarakat lebih baik.

“Justru bagus, supaya mental lebih baik, jangan sampai panik. Tapi, infeknya wisatawan ke NTB yang sebelumnya signifikan, jadi takut. Jangan bikin kaget, Mas Agus ngangenin orangnya,” ungkap dia sambil candain kepala BMKG Mataram, Kamis (4/7).

Mantan Anggota DPR RI itu mengaku, isu hanya potensi terjadinya gempa, bukan diprediksi akan terjadi gempa karena, tidak ada ahli manapun bisa memprediksi terjadinya gempa bumi. Tidak jauh beda soal berita Gunung Rinjani yang di rilis TNGR. Kalau tidak ada intervensi pemerintah provinsi, bisa dicopot jabatan kepala TNGR itu.

Menurut Gubenur, kalau menulis berita tidak seimbang apalagi tidak disuguhkan hasil kajian maka dampaknya luar biasa terhadap kemajuan daerah.

“Orang prediksi kiamat aja ada. Ini baru potensi gempa, itu tidak apa-apap. Apalagi NTB pernah dilanda bencana gempa bumi sehingga, misi kita tangguh dan menetap atau mitigasi,” kata dia.

Dia menegaskan, saat ini NTB sedang tahap rekonstruksi pasca gempa sehingga butuh dukungan semua pihak agar lebih baik.”Baru saja saya balik dari Darwin, tidak satupun kursi pesawat tersisa karena saking senangnya ke Lombok. Jangan senang iruk-pikuk lantas membuat kegaduhan,” sindirnya.

Yang jelas lanjutnya, jika bencana itu terjadi maka, masyarakat harus lebih dari siap antisipasi.

” Kita ngurus aplikator aja butuh proses. Saat ini kita jadi daerah percontohan rekonstruksi dibandingkan daerah lain,” ujarnya.

Kepala BMKG Mataram, Agus Riyanto yang hadir saat itu juga menegaskan, tidak menyalahkan hasil kajian dan uji ahli geologi itu. Akan tetapi, itu sebatas potensi bukan prediksi karena gempa tidak bisa diprediksi kapan terjadi.

“Mereka sedang uji falio atau ukur jejak tsunami masa lampau, sehingga sisir pantai selatan Lombok dari Bali hingga Banyuwangi. Ditemukan lapisan pasir dengan uji laboratorium berumur 500 tahun, artinya pernah terjadi tsunami di laut selatan Lombok. Kembali dikaji, ditemukan 1000 tahun silam juga pernah terjadi tsunami,” papar dia.

Agus mengaku, tahun 2012 lalu, ahli tersebut bersama BMKG pernah melakukan kajian, temukan pasir bekas tsunami. Bicara soal ketinggian tsunami mencapai 20 meter itu perlu diluruskan. Yang dimaksud oleh ahli itu saat seminar di Universitas Nahdatul Ulama (UNU) NTB bahwa ada tiga angka 20, bukan ketinggian tsunami 20 meter.

Kemudian kalimat Lombok Selatan itu bagi Agus sangat salah melainkan laut Selatan Lombok, diluruskan bukan menjurus ke batas wilayah, seolah-olah batas artikulasi wilayah.

Menurutnya, Mega trust bisa mencapai 8,5 Magnitudo bukan Lombok Selatan tapi Selatan Lombok, bahkan kalau di urutkan dari pantai barat pantai selatan seperti Sumatra bahkan selatan Jawa, bisa juga NTT yang merupakan pertemuan garis lempeng menyusup masuk dari Australia.

“Disini tempat pasti terjadi gempa berkekuatan 8,5 magnitudo. Disitu tempat pasti Mega trust, kekuatan bisa dihitung volume lempeng, energi dan kecepatan 11 cm / tahun Sehingga bisa di akumulasikan energi jika lempeng itu bertemu,” tuturnya.

Yang jadi pertanyaan besar, terjadinya kapan? Dia pun tidak bisa pastikan, sekali ilmu pengetahuan canggih tidak bisa memprediksi.

“Gempa tidak bisa diprediksi, BMKG tidak bisa prediksi, namun bilang telah terjadi itu pun setelah terjadi berdasarkan hasil kajian alat pasca terjadi gempa,” ujarnya.

Dia menambahkan, setelah kantor BMKG ditarik ke Lombok tahun 2016, tahun pertama catat sebanyak 480 gempa, tahun kedua 806 gempa dan tahun 2018 jumlah gempa 3699 kali. Itupun merupakan 30 persen jumlah gempa secara Indonesia.

“Tugas BMKG monitor, ada namanya periode ulang, yang tahun 2018 itu masuk periode 40 tahunan, akan terjadi lagi pada 40 tahun kemudian, hasil kajian data historis. Sehingga NTB akan dibangunkan Selter monitoring gempa untuk memonitor jika terjadi gempa,” tutupnya.(TN-04)

Related Articles

Back to top button