Pendidikan

Penjual Cilok Asal Lombok Ini Mampu Menjadi Wisudawan Terbaik Di Sulsel

Mataram, Talikanews.com – Turmuzi, adalah salah satu Wisadawan lulusan S1 terbaik ke empat dengan IP 3,77 di STAI Al-Gazali Barru, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Turmuzi yang lahir di Dusun Numpeng, Desa Jago, Kecamatan Praya, Lombok Tengah itu, berhasil menyelesaikan kuliahnya dari hasil berjualan Cilok (Bakso,red).

Putra dari Musa dan Kamariah (almarhumah), SDN Telagewaru Desa Jago, SMPN 5 Jonggat kemudian selesaikan SMA Darul Falah Pagutan Mataram itu menceritakan kisah pilunya hingga bisa menyelesaikan kuliah dengan wisadawan terbaik ke empat itu.
Tahun 2012, setelah lulus di SMA Darul Falah Pagutan Mataram, ia disarankan untuk mencari kerja ke negeri Jiran (Malaysia) oleh ayahnya. Akan tetapi, Turmuzi ingin sekali melanjutkan pendidikan dengan alasan, ketika kaya ilmu maka bisa ditelurkan ke anak cucunya.

Beralasan itu, Turmuzi memutuskan untuk ikut Pamannya hidup di Sulawesi Selatan untuk berjualan Cilok keliling demi membiayai dirinya kuliah di STAI Al-Gazali Barru.

“Perjalanan hidup saya sangat menyedihkan. Saat wisuda, saya sangat sedih campur haru karena tidak pernah membayangkan bisa mencapai gelar dibalik perekonomian orang tua katagorikan kurang mampu,” ungkapnya, Minggu (17/2).

Saat Wisuda, air mata pun tak terbendung dari Turmuzi, berkacamata dari teman-teman lainnya didampingi kedua orang tuanya masing-masing. Kini, Turmuzi bercita-cita melanjut S2 karena ingin sekali menjadi dosen Bahasa Arab.

Turmuzi kembali menuturkan lebih jauh pengalaman hidupnya, sebelum kuliah di STAI Al-Gazali Barru sempat kuliah gratis jurusan bahasa Arab di Khalid Bin Walid Pagesangan, namun berhenti disebabkan waktu itu faktor ekonomi.

Ketika itu dia pulang kampung, ke kampung Numpeng, namun disuruh ke Malaysia oleh Bapaknya, dengan merasa sedih menolak, lebih ikut Pamannya jualan bakso juga gorengan.” Di situ saya mulia belajar cara membuat bakso, dan saya kerja selama 2 tahun sama Paman saya dari kampung sama,” kata dia.

Berjualan Bakso (Cilok), ia mendapatkan uang kalau pun tidak seberapa. Namun, yang paling dibanggakan, mampu kuasai ilmu yakni cara membuat bakso. Dengan demikian, ia punya insiatif untuk mandiri produksi sendiri dan berjualan keliling sekaligus kuliah di STAI Al-Gazali BARRU beralasan di kampus tersebut biaya SPPnya relatif terjangkau dan akreditasinya B. Turmuzi pun mengambil jam kuliah siang.

“Alhamdulillah, meskipun banyak rintangan yang saya lalui dari, pernah sakit demam berdarah sampai punggung tersiram air bakso yang masih mendidih namun masih bisa di lalui dengan sabar,” tuturnya.

Sepulang kuliah sore harinya, Turmuzi membuat bahan Bakso hingga malam hari, pagi harinya dia ke lokasi jualan di pasar-pasar malah di sekolah dan kadang ke Kampus. Semester III, dia menjadi tenaga honorer Madrasah Aliah (MA) dan MTS di sebuah Yayasan di Kecamatan Tanete Riaja Kabupaten Barru, dipercayakan mengajarkan bahasa arab.

“Meskipun bisa sedikit sedikit tapi alhamdulillah bisa telurkan ilmu kepada anak-anak didik,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, dirinya mampu selesaikan Yudisium tanggal 27 Januari 2018 yang acara Wisuda tanggal 6 Februari 2019. Saat ini ia fokus untuk melanjutkan S2 dan berinisatif menyewa tempat berjualan Cilok dekat Kampus supaya ada tambahan dana biaya S2 yang pendaftarannya bulan Juli 2019 nanti.

“Selama 2 tahun jualan Pentol bekerja sama dengan orang. Saat mandiri, sehingga bisa biayai diri kuliah sampai saat ini,” tutupnya. (TN-04)

Related Articles

Back to top button