Hukum & Kriminal

Bandar Sabu Jaringan Internasional Polda NTB Berhasil Kabur, Benarkah Ada Rp 10 Miliar?

Mataram, Talikanews.com – Masih inget tidak, salah seorang warga negara Francis yakni Felix Dolfin yang merupakan bandar sabu jaringan internasional yang berhasil ditangkap jajaran Kantor Bea dan Cukai Mataram bersama aparat penegak hukum di Bandara Internasional Lombok pada bulan September 2018 lalu.

Kini, Felix Dolfin yang sempat menjalini proses hukum di Mapolda NTB, berhasil kabur dari penjagaan aparat penegak hukum Mapolda NTB melalui ventilasi berukuran 70×70 centi meter dengan menggergajinya dan turun menggunakan selimut tidur serta gorden.

Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat melalui Kabid Humasnya, Kombes Pol Komang Suartana membenarkan bahwa Felix Dolfin berhasil kabur dari tahanan Mapolda dengan cara menggergaji besi terali pentilasi lantai 2 Tahanan dan Titipan (Tahti) Mapolda NTB ukuran 70×70 centi meter, dan turun menggunakan kain tidur, gorden dan sejenisnya.

“Dolfin kabur sekitar pukul 12.00 Wita Minggu malam. Masih di selidiki oleh Propam, apa yang digunakan untuk memotong terali besi itu,” ungkapnya Senin (21/1).

Dia mengatakan, upaya yang dilakukan oleh Polda NTB untuk mengungkap kasus kaburnya bandar sabu internasional itu cukup banyak. Dimana, Kapolda langsung kroscek ruang tahanan dan turunkan jajaran untuk mencari Dolpin.

Bahkan, Kapolda sudah mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO), kemudian surat pencegah keluar dari NTB, dikoordinasikan dengan seluruh Polres dan imigrasi.

Disinggung soal adanya informasi bahwa, Dolpin bisa keluar dari gedung Tahti karena adanya dugaan keterlibatan oknum anggota yang dibayar Rp 10 Miliar? Dengan tegas Komang membantahnya.

“Tidak informasi seperti itu, apalagi Rp 10 Miliar untuk membayar oknum sehingga bisa kabur,” tegas dia.

Dia menjelaskan, saat ini masih proses pemeriksaan oleh Propam termasuk anggota yang piket penjagaan. Sehingga, jika ada indikasi seperti dugaan-dugaan maka, akan ditindak tegas sesuai kode etik.

Yang jelas lanjutnya, Dolfin diperkirakan masih berada di Lombok sesuai data Handphone (HP). Mengenai proses kasus hukum Dolfin? Komang mengaku Kasus sudah dinyatakan P21 tinggal penyerahan berkas perkara ke Kejaksaan.

“Dolfin ini tidur sendiri dalam satu kamar. Kalaupun kapasitas ruang Tahanan dipolda, sangat mencukupi yakni lebih dari 20 ruangan,” tuturnya.

Komang menambahkan, petugas yang bertugas menjaga ruang Tahti itu sebanyak 6 orang secara bergantian selama 1×12 jam.

“Yang jelas, jika ada oknum dalam terlibat, akan ditindak tegas, tergantung hasil pemeriksaan. Kasus ini juga sudah dilaporkan ke Mabes Polri untuk diatensi,” tutupnya.

Untuk diketahui, Dolfin sebelumnya dibekuk Direktorat Reserse Narkoba Polda NTB dan Bea Cukai Mataram, lantaran kedapatan membawa 2,4 kilogram narkotika jenis sabu dan ekstasi.

Dolfin tertangkap setelah petugas Bea Cukai memeriksa dua koper miliknya yang berisi narkoba senilai Rp 3 miliar itu.Saat itu, tersangka sempat melakukan aksi tutup mulut, mencoba bunuh diri dan mencoba kabur saat diperiksa di Bandara Internasional Lombok. (TN-04)

Tags

Related Articles

Back to top button