Nasional

Polda NTB Sulit Jerat Terduga Pelecehan Nuril, Kuasa Hukum Siap Praperadilkan

Mataram, Talikanews.com – Kabar yang kurang baik terdengar terhadap kasus Baiq Nuril Maknun. Dimana hasil gelar perkara pihak Direskrimum Polda NTB yang mengundang pengacara Baiq Nuril kemarin menyebut, terduga pelaku pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril berinisial HM sulit dijerat hukum.

Pengacara Baiq Nuril, Yan Mangandar Putra, mengatakan berdasarkan hasil gelar perkara antara pengacara dan kepolisian kemarin sulit bagi polisi untuk menjerat hukum HM sang mantan kepala SMAN 7 Mataram tersebut. Hasil gelar perkara ini disampaikan Yan kemarin di Mataram.

Yan menyampaikan mayoritas yang hadir dalam gelar perkara itu mengatakan laporan Ibu Nuril tidak cukup bukti memenuhi unsur pasal 294 ayat (2) ke-1 KUHP sehingga patut untuk dihentikan.

Seperti diketahui Baiq Nuril melapor balik HM atas tuduhan melakukan perbuatan cabul secara verbal pada dirinya yang saat itu menjadi bawahan HM. Namun menurut kepolisian, perbuatan cabul atasannya itu, kalau bicara pasal 294 ayat (2) ke 1 KUHP, tidak diartikan sebagai perbuatan cabul secara verbal. Sementara Baiq Nuril diduga dicabuli melalui percakapan telepon.

Yan sebagai pengacara publik di BKBH Fakultas Hukum Universitas Mataram, menanggapi penghentian penyidikan terhadap HM merupakan kewenangan penyidik, sehingga dia menyerahkan sepenuhnya pada penyidik kepolisian.

“Dilanjutkan atau dihentikan laporan Ibu Nuril, kami serahkan pada penyidik,” ungkapnya, Kamis (17/1).

Menurutnya, Nuril sebagai warga negara telah melakukan kewajiban melaporkan dugaan tindak pidana yang dilakukan terhadap dirinya. Tinggal penyidik menentukan sebagai kewenangan sepenuhnya ada pada pihak aparat penegak hukum.

Namun, bila nanti laporan Baiq Nuril resmi dihentikan atau pihak kepolisian mengeluarkan SP3 (surat penghentian penyidikan perkara) tentu mereka dari penasihat hukum berencana akan melakukan praperadilan.

“Kalau di SP3 kan, kami akan uji melalui praperadilan,” katanya.
Terkait hal itu, Kabid Humas Polda NTB, Kombes Komang Suartana mengaku, pihaknya belum bisa membrikan keterangan lebih lanjut terkait hal tersebut. Saat ini gelar perkara masih dilakukan.

“Perkembangan nanti di sampaikan apa hasil gelarnya,” ujarnya.

Komang mengatakan sampai detik ini (kemarin, red) masih didapatkan oleh pihak penyidik sehingga hasil gelarnya pun belum ada.

“Kami masit rapat hasil gelar belim di sampaikan,” katanya.

Diketahui pada pertengahan November 2018 lalu, Baiq Nuril dan tim pengacara melaporkan HM ke Polda NTB atas tuduhan pelecehan seksual secara verbal. Itu buntut dia dijerat undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atas laporan HM yang dulunya adalah Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram.

Sementara itu terkait Peninjaun Kembali putusan vonis Baiq Nuril oleh MA belum lama ini pihak Pengadilan Negeri (PN) Mataram telah selesai menggelar sidang diaman rabu (16/01) dengan agenda pemeriksaan berkas memori PK itu.

Pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram memberikan tanggapannya atas materi memori PK Baiq Nuril. Seperti data yang diterima koran ini dimana poinnya pihak pengacara menyinggung masalah alat bukti yang tidak sah, kemudian menganggap bahwa putusan MA itu tidak sesuai bahwa seharusnya yang menjadi korban itu Baiq Nuril, bukan Haji Muslim.

Namun dalam sidang PK itu pihak pengacara mengaku kecewa karena sidang kedua yang itu langsung Tandatangan Berita Acara Sidang. Hal yang membuat mereka kecewa lantaran keinginan pengacara untuk mengajukan Ahli ditolak Hakim.

“Sidang PK Ibu Nuril sudah usai kemarin hari Rabu ditandai Tandatangan Berita Acara Sidang. Kami sebenarnya agak kecewa karena keinginan kami ingin mengajukan Ahli di sidang PK ditolak Hakim,” pungkasnya.

Yan mengatakan dengan ditolaknya Ahli cukup menjadi catatan mereka dan tidak akan ada perlawanan lagi. Pihaknya saat ini hanya bisa berdoa agar nurani hakim dibuka pintu hatinya untuk bisa memutuskan perkara Baiq Nuril seadil adilnya.

“Sekarang hanya bisa berdoa moga Allah SWT membukakan nurani hakim,” pungkasnya. (TN-04)

Tags

Related Articles

Back to top button