Pariwisata

Ritual Adat Roah Segara Lauk Kembali Di Lestarikan Warga Desa Kuta

Lombok Tengah, Talikanews.com – Untuk melastraikan budaya dan adat yang telah di tinggalkan oleh nenek moyang ratusan tahun yang lalu secara turun temurun hingga kini budaya dan adat tersebut masih dilestarikan oleh generasi penerus.

Seperti halnya budaya yang satu ini, ritual roah segara yang mana budaya ini selalu di ritualkan setiap tahunya, karena ritual adat roah segara ini merupakan bentuk rasa syukur kepada sang pencipta yang telah memberikan limpahan rizki dan keselamatan selama mencari rizki di tengah laut yang luas.

Seperti yang di katakan Mirate Kepala Desa Kuta yang dilantik beberapa hari yang lalu, tujuan dilaksanakannya Ritual Roah Segare merupakan sarana untuk berdoa kepada Tuhan agar nelayan selamat dari bahaya saat melaut.

“Ia tujuan dari ritual roah segare ini tidak lain selain dari ucapan rasa syukur dan sarana untuk berdoa kepada Tuhan agar nelayan selamat dari bahaya saat melaut,” ucapnya saat acara ritual roah segara di Pantai Kuta Dusun kuta II Desa kuta Kecamatan Pujut, Minggu (6/1).

Senada dengan yang disampaikan Camat Pujut Lalu Sungkul S.Pd, bahwa Ritual Roah Segare merupakan cara bersyukur kepada Allah dan merupakan bentuk melestarikan alam.

“Ritual Roah Segare merupakan cara bersyukur kepada Allah dan merupakan bentuk melestarikan alam,” tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah H.L. Moh Putria Spd,MPd mengatakan, acara roah Segara merupakan peninggalan leluhur kita. Kedepan diharapkan kepada Ketua lembaga adat Desa Kuta agar terus menggali dan melestarikan budaya daerah khususnya yang yang ada di Desa Kuta dan terus mampu memperjuangkan masyarakatnya jangan sampai jadi penonton di daerah sendiri nari kita jual potensi yang ada ini, mengingat daerah Loteng adalah daerah pariwisata.

“Ritual adat ini merupakan tradisi peninggalan nenek moyang kita, semoga kedepan kita bisa kelola lebih baik lagi sehingga kita bisa memberikan daya tarik dan bisa di jual, mengingat daerah kita adalah daerah pariwisata,” tutupnya.

Setelah ritual adat ini nelayan dilarang melaut selama waktu 3 hari. (TN-03)

Tags

Related Articles

Back to top button