Pariwisata

Masyarakat Lingsar Perang Menggunakan Ketupat Jaga Kerukunan Umat Beragama

Lombok Barat, Talikanews.com – Menjaga kerukunan antar umat yang berbeda pemahaman butuh pemikiran. Berbeda dengan masyarakat Lingsar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Kalau pun beda kepercayaan, namun kerukunan tersebut tetap dijaga dan di lestarikan dengan perang tepat.

Kepala Desa Lingsar H.M. Abdul Hadi menyampaikan perang topat merupakan tradisi turun temurun yang terus dijaga masyarakat Lingsar dalam menjaga kerukunan umat beragama. Perang tepat itu berlangsung di kompleks Pura Lingsar yang merupakan Pura tertua dibangun tahun 1759 saat zaman Raja Anak Agung Gede Ngurah, keturunan Raja Karangasem Bali yang disebut berkuasa di sebagian pulau Lombok abad ke-17 silam.

Dia menjelaskan, di dalam area pura ini, ada dua bangunan besar yang disebut Pura Gaduh sebagai tempat persembahyangan Hindu, dan bangunan Kemaliq yang disakralkan umat muslim Sasak yang terus digunakan untuk upacara-upacara ritual adat.

Dimana, Masyarakat Desa Lingsar, secara terus menerus menggelar ritual perang topat hari ke-15 bulan ke tujuh pada penanggalan Sasak Lombok, yang disebut purnama sasih kepitu (Purnama bulan ketujuh), atau hari ke 15 bulan ke enam pada penanggalan Hindu Bali, yang disebut purnama sasi kenem (Purnama bulan keenam).

“Pada malam purnama, umat Hindu akan melaksanakan upacara Pujawali. Sedangkan muslim akan melakukan napak tilas memperingati jasa Raden Mas Sumilir, seorang penyiar agama Islam dari Demak, Jawa Tengah, yang menyiarkan Islam di Lombok pada abad ke-15,” paparnya, Kamis (22/11).

Uniknya lanjut Abdul Hadi, pasca perang msnggunakan tepat itu, masyarakat akan membawa sisa ketupat untuk ditaburkan di sawah diyakini bisa menambah hasil pertanian.

Salah satu warga Narmada, Lombok Barat, Syaviq Wahyudi, sengaja mengambil sisa ketupatnya untuk di tanamkan di sawahnya. Ia juga mengaku senang dengan acara perang topat.

Abdul Hadi kembali menuturkan, acara ini terbukti mampu merekatkan rasa persatuan antar beragama di Lombok.

“Bagus dan tarik wisatawan, Sekarang tambah ramai, dan bagus untuk istiwa yang baik,” ungkapnya usai acara.

Dia menerangkan, sejarah perang bermula saat Kedatangan Hindu dari Bali ke Lombok pada abad 16 yang sampai ke Desa Lingsar yang kala itu sudah didiami Muslim. Saat itu, umat hindu dan muslim sudah menunggu kedatangan orang Bali, komunitas Muslim sudah siap-siap untuk perang dan menyerang, tapi ada seorang kyai yang mendamaikan kedua komunitas yang akhir mau perang. Akhirnya perang dalam arti nyata bisa dihindarkan, dan diganti dengan proses yang masih ada hingga kini.

“Bhineka tunggal ika tidak hanya dalam kata dan diucapkan secara lisan, tapi oleh warga di sini dipraktikan dalam tingkah laku,” katanya. (TN-07)

Tags

Related Articles

Back to top button