Hukum & Kriminal

Pekan Depan Kejari Mataram Panggil Baiq Nuril, Apakah Dieksekusi?

Mataram, Talikanews.com – Kejaksaan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat, masih konsultasi dengan pimpinannya untuk mengekseskusi Baiq Nuril Maknun terpidana kasus pelanggaran UU ITE, atas tindak pidana tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat aksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Kejari Mataram, Dr Ketut Sumedana menyampaikan, sebenarnya rencana pelaksanaan eksekusi terhadap Baiq Nuril pada hari Rabu kemarin. Dirinya sudah membahasnya bersama Jaksa Penuntut Umum (JPU). Malah, surat eksekusi sudah dilayangkan, akan tetapi karena viral pemberitaan di media makanya surat itu ditarik lagi.

Kalaupun begitu, ada rencana akan panggil ulang pada hari Rabu pekan depan. Namun, jika ada surat permintaan penundaan dieksekusi dari kuasa hukum maka dipertimbangkan sambil dikonsultasikan dengan pimpinan.

Bagaimana dengan rencana Baiq Nuril minta peninjauan kembali (PK). Bagi Ketut, tidak menghalangi eksekusi, tapi akan di konsultasikan dengan pimpinan.

“Belum ada surat permohonan penundaan eksekusi, jika ada akan disampaikan ke pimpinan,” ungkapnya di Mataram, Jumat (16/11).

Ketut menjelaskan kronologis kasus yang menimpa Baiq Nuril itu. Awal fakta kasus ini tahun 2012 yakni perselingkuhan antaran kepala SMAN 7 Mataram dengan Bendahqranya inisial L. Dimana, saat itu Baiq Nuril diminta datang ke salah satu Hotel berbintang di Senggigi Lombok Barat untuk mengerjakan tugas oleh Kepsek (Muslim,red). Setiba disana, Baiq Nuril disuruh pergi berenang bersama anaknya, satu jam kemudian, Kepsek panggil Baiq Nuril, tiba ditunjukkan bekas “Air Sperma” perselingkuhan bersama bendahara itu.

Ke esokan hari, Baiq Nuril kembali ditelepon Muslim, Nah apa yang menjadi pembicaraan itu direkamnya. Tahun 2015, Baiq Nuril cerita sama salah satu temannya pak Imam Badawi dan rekaman itu diambil oleh pak Imam Budawi.

“Disana awal viral sampai ke Dinas, saat itu Muslim melaporkan keberatan dan tidak ada upaya damai, karena tidak ada kontak lagi dengan Kepsek,” katanya.

Setelah ada laporan kemudian diproses, kalau pun berkas perkara sudah tiga kali bolak balik, dari kacamata pembuktian, akhirnya dinyatakan P21. Setelah disidangkan tahun 2017, Pengadilan Negeri Mataram berpendapat berbeda dengan JPU sehingga Baiq Nuril dibebaskan.

Selaku JPU merasa tidak puas dan tugas untuk melakukan Kasasi. Hasil Kasasi, baru 4 hari lalu menerima petikan Keputusan Mhkamah Agung (MA) pasal 226 juncto pasal 257 KUHP nomor 574 K/PID.SUS/2018 demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa.

Yang jelas lanjutnya, tidak ada pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril secara fisik. Kalau pun seandainya ada secera verbal tergantung teman-teman yang menilai karena, Kejaksaan Negeri tidak tahu aturan hukumnya.

Disinggung bahwa bukan Baiq Nuril yang menyebarkan rekaman melainkan temannya? Bagi Ketut unsur pasal yang dilanggar yakni pasal 27 ayat 1 juncto pasal 45 UU nomor 11 2008 tentang UU ITE berbunyi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau bermuatan yang melanggar kesusilaan.

Dia menambahkan, padahal, Baiq Nuril bisa melaporkan balik Muslim jika ada terjadi pelecehan seksual.

“Boleh saja, silahkan jika anggap pelecehan verbal,” ujar dia.

Akan tetapi, jika dilihat dari rekaman antara Baiq Nuril dengan Muslim, ada komunikasi arah percakapan dua arah, tidak ada tekanan.

“Yang jelas kita lakukan tugas sesuai KUHAP saja,” tegasnya.

Soal dukungan publik terhadap Baiq Nuril? Ketut mengaku ,sengaja undang semua media biar semua tahu kronologis kasus sebenarnya. Namun, jika ada terdapat perselingkuhan, sebenarnya harus dilaporkan lagi oleh Baiq Nuril.

“Perlu digaris bawah, terjadi perselingkuhan, mestinya laporkan saat itu,” tutur dia.

Bagaimana dengan denda Rp 500 juta? Jika tidak mampu bayar denda bisa jalani kurangan selama tiga bulan. Yang jelas, sudah kumpulkan semua teman-teman JPU, bahas kasus Baiq Nuril, hasil pertemuan dan kajian tidak ada pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril, mungkin verbal yang dimaksud. Mestinya laporkan jika ada pelecehan itu. (TN-04)

Tags

Related Articles

Back to top button