Pemerintahan

Angka Kemiskinan NTB Diperkirakan Melonjak Drastis

Mataram, Talikanews.com – Angka kemiskinan di NTB masih tergolong tinggi. Berdasarkan Analisis Bappenas September lalu, data kemiskinan di tahun 2018 berjumlah 737 ribu jiwa atau diangka 14.75 persen.

Data ini tentu lebih menurun jika dibandingkan tahun 2017 sebanyak 794 ribu jiwa atau 16.07 persen. Akan tetapi, persentase kemiskinan tahun ini diprediksi akan semakin meningkat ditahun 2019 yaitu menjadi 806 ribu jiwa atau pada 15,88 persen, begitu pula ditahun selanjutnya pada tahun 2020, kemiskinan masih pada posisi yang sama, namun ada pengurangan meski tidak signifikan yaitu 805 ribu jiwa atau 15,62 persen dan di tahun 2021 akan berada di angka 15,39 persen.

Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah menyampaikan, dampak penurunan pertumbuhan ekonomi -1,5 persen akan meningkatkan jumlah penduduk miskin menjadi 806.430 jiwa atau 15,88 persen pada tahun mendatang.
Pihaknya memastikan seiring dengan perbaikan ekonomi pasca pemulihan gempa secara perlahan, kemiskinan di NTB kembali menurun.

Rohmi juga menyampaikan data kemiskinan berdasarkan hasil Survey Sensus Nasional Badan Pusat Statistik. Dimana, tahun 2017 per september berjumlah 748.120 atau 15,05 persen dan di Maret tahun 2018 berjumlah 737.460 atau 14.75 persen.

Dari sisi kriteria lokasi tinggal lanjut Wagub, kemiskinan di Perdesaan periode tahun lalu di bulan Maret sebanyak 14,89 persen. Tetapi, untuk perkotaan 17,53 persen dan 16,23 persen dan ditahun ini per bulan Maret untuk Perdesaan kemiskinan berjumlah 13,72 persen dan perkotaan 15,94 persen alias dari 794 ribu penduduk miskin sesuai data Maret tahun lalu diangka 51,2 persen tinggal didaerah perdesaan dan sisanya 48,8 persen di Perkotaan.

“Dua data ini agak berbeda hasilnya. Tahun 2017 dan 2018 masih sama yaitu 14,75 persen,”kata Wagub di acara Rapat Koordinasi Kemiskinan bersama NGO, Selasa (13/11) di Mataram.

Secara karakteristik penduduk miskin di NTB, tanpa memandang status sebagai kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga 24,9 persen penduduk miskin berusia produktif yaitu antara 26 sampai 45 tahun.

Kemudian, dari sisi usia rata rata kepala rumah tangganya adalah 47 tahun. Berikutnya, lanjut Wagub, sebesar 19,91 persen kepala rumah tangga miskin karena tidak bekerja. Sebanyak 49,61 persen bekerja di sektor pertanian dan 6,69 persen di sektor industri, kemudian 83,34 persen berpendidikan SMP ke bawah dan 54,7 persen berusia dibawah 25 tahun kemungiknan besar adalah anggota rumah tangga yang menjadi tanggungan kepala rumah tangga.

Wagub menjelaskan pelestarian lingkungan menjadi hal vital yang harus dijaga sembari memberantas kemiskinan NTB. Apalagi fenomena bencana, banjir itu sangat merusak lingkuhan hidup sehingga tidak boleh penangannya setengah setengah.

“Kita berantas kemiskinan kita juga harus lestarikan lingkungan,” katanya.

Ide NGO yang menghadiri rakor tersebut disampaikan agar bagaiman program pemberantasan kemiskian betul betul sampai kepada obyeknya, program pemerintah kedepannya harus tepat sasaran sehingga bersifat efektif, efien serta tepat sasaran.

Setidaknya antara program pemerintah serta ide NGO agar bisa tersambung misalnya NGO yang bergerak dibidang recovery, lingkungan, keshetan dan lainnya.

“Stop program seremonial kalau menyelengarakanprogam kegiatan langusng sentuh masyarakat,” tegasnya.

Disinggung soal berapa anggaran untuk menuntasan kemiskinan? Rohmi belum bisa memaparkannya. “Harus melihat porsi KUA PPAS terlebih dahulu, nanti kila lihat,” pungkasnya. (TN-04)

Tags

Related Articles