Pariwisata

BKPH Tambora Cari Investor Bangun Agro Wisata Di Dompu

Foto: Kepala BKPH Tambora, Burhan SP MM (Polo Biru), bersama anggota resort KPH menuju lokasi yang akan dikembangkan sebagai wisata alam Kampasi.

Dompu, Talikanews.com – Balai Kesatuan Pengolahan Hutan (BKPH) Tambora, akan mengembangkan kawasan mata air Kampasi, Desa Suka Damai, Kecamatan Manggelewa, menjadi objek wisata alam berbasis lingkungan atau ekowisata. Bahkan sedang mencari investor dalam pengembangan. Dalam pengelolaannya akan melibatkan masyarakat setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Kampasi binaan KPH.

“Kami sengaja melibatkan masyarakat, supaya mereka tidak menjadi penonton dengan keberadaan Obyek wisata alam ini nantinya. Masyarakat harus menjadi pelaku dalam pemanfaatan potensi wisatanya,” ungkap Kepala BKPH Tambora, Burhan SP MM, saat ditemui di lokasi, Jum’at (5/10).

Menurut Burhan, kawasan hutan di sekitar ini akan dikembangkan menjadi objek wisata, yakni kawasan wisata alam dan wisata buah-buahan. Dengan luas lahan 25 hektar. Meski pengembangan objek wisata alam masih tahap perencanaan, tapi sudah banyak pengunjung yang datang menikmati keindahan alam Kampasi.

Baca juga : Kadis LHK NTB Diminta Pecat KPH Di Dompu

Beberapa jenis rekreasi yang akan dikembangkan di lokasi ini, kata dia, di antaranya kolam renang, kolam ikan, kebuh buah-buahan, outbond, jalur offroad dan kuliner berbagai menu masakan tradisional. Masyarakat Kampasi, bisa menjadi pemandu wisata dan menjual berbagai macam kuliner.

“Masyarakat harus menjadi pelaku langsung dalam pemanfaatan potensi wisata. Untuk pengembangan wisatanya, perlu ada regulasi khusus. Salah satunya, memangkas pungutan liar (pungli) yang memberatkan para pengunjung,” kata Burhan.

Dikatakannya, dengan pengembangan objek wisata alam di sekitar oi Kampasi, otomatis mengubah fungsi hutan,dari asalnya hutan produksi, menjadi hutan lindung atau konservasi. Bahkan hutan konservasi bisa menunjang keberlangsungan dan pemeliharaan Mata air Kampasi. Jika tetap hutan produksi dengan aktivitas penebangan kayu, dikhawatirkan dampaknya akan menimbulkan erosi hingga bisa memicu terjadinya bencana alam.

Setelah jadi hutan lindung, dilarang keras menebang kayu. Untuk mewujudkan ekowisata, kami akan memperbanyak penanaman buah-buahan dan pohon yang ramah lingkungan.

“Sehingga kawasan ini ditetapkan menjadi zona hijau untuk daerah tangkapan air,” ujarnya.

Lebih lanjut Burhan, menegaskan menindaklanjuti rencana tersebut. Pihaknya, dalam waktu dekat akan segera menghadap Bupati Dompu, dan melakukan hearing ke sejumlah SKPD dan Pihak-pihak terkait.

“Kami akan berperan aktif dan all out, dalam mengejar mimpi ini. Dalam waktu dekat ini segera kami menghadap Bupati, setelah itu, ekspo ke Instasi, BUMN dan Investor,” bebernya.

Sementara itu, Sekretaris Kelompok Oi Kampasi, Amirullah mengatakan, masyarakat yang memiliki lahan di kawasan tersebut, sangat mendukung pengembangan wisata alam di kawasan hutan tersebut. Masyarakat bersama BKPH Tambora akan bekerjasama memanfaatkan potensi wisata di sekitar mata air Kampasi.

“Apalagi wilayahnya sangat strategis, dan lokasi ini sangat dikenal sama banyak orang karena memang dijadikan obyek wisata. Jadi, wisata alam ini sangat menjanjikan sehingga harus segera dikembangkan,” tuturnya.

Adapun bentuk nyata dukungan, dari kelompok masyarakat yang memiliki lahan di sekiatar lokasi tersebut, berupa adanya keseriusan dan kesadaran pemilik lahan menanam pohon buah-buahan dan pohon-pohon produktif.

“Saat ini sekitar kawasan tersebut telah ditanami rambutan, klengkeng, sawon, langsat, alpukat, pisang. Semuanya swadaya dari masyarakat. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang masing-masing untuk urunan beli bibit,” papar Amir.

Amir menuturkan, kesadaran itu terbangun dimulai dari kegelisahan dan kerisauan masyarakat sendiri, yang melihat banyak terjadinya bencana alam dan fenomena alam itu sendiri. Serta, kesadaran mereka untuk menjadi petani produktif.

“Mereka kami edukasi terus untuk memahami pentingnya kawasan hutan dan menjaga kelestarian hutan,” jelasnya.

Tidak hanya itu, pihaknya pun terus mempropagandakan bahwasannya tidak selamanya menanam jagung itu solusi untuk sejahtera. Namun, jagung adalah komuditi yang lapar lahan dan untuk pemenuhan pasar sementara saja.

“Jadi tidak bisa kita bergantung pada jagung semata, yang paling utama adalah memproduktifkan kawasan hutan dengan inovasi yang berbasis ramah lingkungan,” tegasnya.

Informasi yang dihimpun media ini, untuk pengembangan wisata alam Kampasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui BPHP Wilayah VII Denpasar telah menyetujui anggaran senilai Rp 1,5 Miliar. Dan, anggaran ini tinggal di cairkan. Tidak hanya itu, pengembangan kawasan ini akan mulai dikerjakan pada akhir tahun ini.(TN-05)

Related Articles

Back to top button