Pariwisata

Gili Pulih, Pelaku Wisata Harapkan Ada Sosialisasi Mitigasi

Foto : Icon Gili Trawangan Kab. Lombok Utara.

Mataram, Talikanews.com – Para pelaku industri wisata di Tiga Gili yakni Trawangan, Gili Air dan Meno Kabupaten Lombok Utara, sudah mulai tersenyum karena kondisi destinasi wisata ditempat tersebut perlahan pulih pascagempa yang melanda sejak akhir Juli hingga Agustus.

General Manager Warna Beach Hotel Rikardus Jumas mengatakan, tingkat okupansi kamar hotel di Gili Trawangan mulai kembali normal. Ia menyebutkan, dari 16 kamar yang dimiliki Warna Beach Hotel, 10 kamar terisi oleh turis dari Jerman, Inggris, dan Australia. Sementara enam kamar lainnya sedang dalam proses perbaikan pascagempa.

“Memang ada kerusakan, tapi bisa dibilang minim, dari yang saya lihat sekitar 80 persen hotel di Gili Trawangan sudah kembali normal,” ujar Rikardus di Mataram, NTB, Selasa (2/10).

Rikardus menyebutkan, tingkat kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan saat ini berkisar 650 turis sampai 700 turis setiap hari, atau mengalami penurunan dibanding saat normal yang mencapai 1.000 turis per hari.

“Oktober seperti ini kan high season, biasanya kalau pas tidak bencana bisa sampai 2 ribu turis per hari,” kita dia.

Meski ada penurunan, hal ini tergolong wajar mengingat dampak gempa yang begitu besar. Namun, ia bersyukur dari ratusan turis yang sudah kembali datang ke gili memiliki rata-rata lama menginap antara dua malam sampai tiga malam.

“Kita bersyukur, karena sebelumnya diprediksi pemulihan bakal lama, malah saat ada isu gempa pada (Ahad) 26 Agustus, itu kosong Gili,” ucapnya.

Kerja sama antara Pemkab Lombok Utara dan para pelaku industri wisata di Gili menjadi salah satu kunci dalam proses pemulihan. Dia menyampaikan, Pemkab Lombok Utara meminta para pelaku usaha di gili untuk kembali membuka usahanya pada 25 Agustus, meski belum ada pengunjung.

Ia menambahkan, apel upacara 17 Agustus yang diikuti ratusan orang, mulai polisi, TNI, pelaku industri wisata, dan instruktur diving yang berasal dari AS, Inggris, dan Australia, memberikan pesan kuat kepada dunia luar bahwa gili aman untuk kembali didatangi.

“Dari berbagai upaya ini sampai ke media di Inggris dan akhirnya baru hari ini travel advice untuk tiga gili sudah dicabut,” tuturnya.

Rikardus mengatakan, tidak ada satu pun warga negara asing (WNA) yang meninggal dunia di gili. Kata dia, ketika gempa terjadi, para wisatawan mancanegara langsung keluar dari bangunan dan menuju ke tanah lapang dan areal pantai. Sementara, warga lokal justru berlarian ke bukit yang ada di Gili Trawangan. Terdapat perbedaan mencolok antara warga lokal dengan wisman dalam memandang kebencanaan. Menurutnya, wisman sudah memiliki bekal edukasi yang cukup dari negaranya tentang mitigasi bencana.

“Orang barat mereka pikir gempa tidak mematikan, salah satunya cara dengan menghindari konstruksi,” ucapnya.

Ia menilai, edukasi dan mitigasi akan bencana masih sangat minim dilakukan pemerintah di Indonesia.

Rikardus menyebutkan, hingga saat ini, belum pernah ada sekali pun sosialiasi tentang mitigasi dilakukan pemerintah di Gili Trawangan.

“Tidak pernah sama sekali ada sosialisasi mitigasi bencana dari BPBD. BPBD punya kapasitas untuk memberi sosialisasi seperti seminar sejak dini, edukasi bahwa negara kita ada cincin api, entah bencana gempa, tsunami, dan gunung,” tutupnya. (TN-04)

 

Related Articles

Back to top button