Pariwisata

Fashion Show Sail Moyo Tambora Tak Sesuai Budaya Masyarakat Samawa

Mataram, Talikanews.com – Event nasional Sail Moyo Tambora yang digelar beberapa hari lalu di Badas Kabupaten Sumbawa, yang menampilkan berbagai atraksi demi menarik wisatawan, menyisakan kekecewaan warga setempat.

Bagaimana tidak, salah satu atraksi yakni Fashion Show yang menampilkan cara berpakaian tidak sesuai dengan adat dan budaya setempat dianggap tidak seiring brand wisata halal yang telah digembar-gemborkan pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Salah seorang masyarakat Sumbawa juga budayawan, Rusdianto Samawa sekaligus penulis buku Tama Lamong, merespon acara Fashion Show di ajang Sail Moyo Tambora.

Dia mengatakan, keterbatasan pemerintah Sumbawa memaknai tradisi Tama Lamong dalam berbagai aktivitas pemerintahan, pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan pariwisata membuat sulit dimengerti.

Pergelaran budaya Sail Moyo Tambora tahun 2018 ini, dapat dijadikan bahan renungan. Pasalnya, ciri khas budaya Sumbawa (Samawa) tidak ditampilkan secara elegan. Sala satu contoh, Fashion Show seperti ajang Miss Indonesia atau Miss Universe yang dilaksanakan sekitar seputaran Jembatan Samota yang merupakan simbol pariwisata Samawa.

Namun acara itu membuat “Tau Tana Samawa dan masyarakat umumnya harus menumpahkan rasa kecewanya karena penampilan Fashion Show itu telah menodai nilai-nilai kesamawaan.

“Harusnya panitia Sail Moyo Tambora ini mengerti masalah adat dan makna kebudayaan Tama Lamong Sumbawa,” ungkap penulis buku Hilangnya Tradisi Tama Lamong, Jumat (14/9).

Dia mengaku, memang kebudayaan Tama Lamong selama ini sangat stagnan dalam dinamika masyarakat Sumbawa. Seringkali berhadapan langsung dengan kelompok – kelompok egosentris kelas menengah. Dimana, kelas menengah itu dimaksud yakni kelompok-kelompok Event Organiser yang hanya mengejar keuntungan, tetapi tidak perhatikan nilai-nilai religiusitas, humanitas dan intelektualitas masyarakat samawa.

Padahal, dirinya telah melakukan penelitian sebelumnya sejak tahun 2012 hingga 2015 bahwa tradisi Tama Lamong diyakini terpengaruh oleh lingkungan yang saling berkompetisi dalam perebutan kekuasaan. Para tokoh kebudayaan dan pemerintahan di Sumbawa relatif gagal mendefiniskan esensi Tama Lamong itu sebagai bagian dari denyut nadi perubahan kehidupan masyarakat.

Penting kedepan lanjutnya, untuk terus belajar etika kesamawaan dan tradisi itu seyogyanya tidak mempersulit pemahaman terhadap intensitas persuasi komunikasi masyarakat kehidupan.

“Sala satu misal pergelaran Fashion Show di Samota yang kontroversi itu menampilkan tenunan Samawa dan rupanya desainernya kurang paham soal Tradisi Tama Lamong tersebut. Sehingga membuat nilai-nilai kesamawaan menjadi rusak,” cetusnya.

Oleh sebab itu, dirinya meminta pemerintah dan tokoh kebudayaan agar melaksanakan secara baik dan benar tradisi Tama Lamong dan lakukan penyegaran konsep sehingga hadirnya proses akseleratif yang mensertakan pesan moral kedalam seluruh aspek masyarakat Sumbawa dimulai dari pendidikan, politik, kebijakan, pariwisata dan ekonomi. Kepentingan Tama Lamong “mencegah” terjadinya syindrome “the end kanggila” pada masyarakat Sumbawa. (TN-04)

 

Related Articles