Sosial

Penyakit ISPA Dan Diare Mulai Mewabah Di Pengungsian, NU Peduli Lombok Ambil Sikap

Mataram, Talikanews.com – Usai gempabumi berkekuatan 7,0 Skala Richter 5 Agustus lalu, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, dan gatal-gatal, mulai menjangkiti sejumlah lokasi pengungsian khususnya di “Gumi Tioq Tata Tunak” Lombok Utara.

Tim Medis NU Peduli, dr. Danang menilai, merebaknya kasus diare dan gatal kulit itu diduga bersumber dari aktivitas di hulu muasal air yang tidak hygienis dari sisi kesehatan, yang didistribusikan ke sejumlah lokasi pengungsian.

“Awal-awal terjadi gempa di KLU banyak pengungsi yang memanfaatkan sungai di KLU sebagai MCK karena kondisi yang darurat. Kemudian di hilir sungai itu diambil airnya, untuk didistribusikan ke sejumlah pengungsian ataupun yang langsung memakai air di kali tersebut,” ungkapnya di Posko Utama NU Peduli, Aula PW NU, Selasa (28/8).

Dikatakan, untuk aktivitas masak dan keperluan minum, diakui air yang dipasok tersebut dimasak secara baik.

“Tapi problemnya justru air untuk cuci tangan dan mandi, memakai air yang tidak bersih tersebut. Inilah salah satu penyebab munculnya penyakit diare atau gatal-gatal,” sebutnya.

Meskipun demikian, dr. Danang mengaku bahwa saat ini penyakit diare dan ISPA sudah dapat ditekan, berkat kesadaran para pengungsi dengan merubah perilaku hidup lebih sehat.

Selain itu, juga di lokasi pengungsian mulai terpasang sejumlah MCK, yang berkontribusi menekan penyebaran penyakit tersebut. Namun saat ini terindikasi mewabahnya penyakit yang lain.

“Justru ada indikasi munculnya gejala penyakit typus akibat menumpuknya sampah di pengungsian, yang mengundang lalat sebagai biangnya,” bebernya.

Menurut dokter muda dari Universitas Brawijaya (UNIBRAW) ini, permasalahan kesehatan di lokasi pengungsian sangat kompleks dan sulit diduga timbulnya berbagai penyakit yang muncul. Hal ini tentu terkait pula dengan daya tahan ataupun imunitas tubuh masing-masing pengungsi yang berbeda.

“Secara umum, makin bersih sanitasi dan pola hidup sehat di lingkungan pengungsian, maka daya tahan tubuh juga makin memiliki imunitas dalam menghadapi penyakit,” jelasnya.

Untuk mencegah menyebar penyakit khas di pengungsian tersebut, Tim Medis NU Peduli selain melakukan upaya kuratif yakni menyembuhkan, juga melakukan upaya preventif (pencegahan) terhadap menjangkitnya penyakit, baik melalui aksi kongkret di lapangan ataupun penyuluhan.

“Selain itu juga melakukan upaya rehabilitasi pasien yang terdampak, agar makin sehat dan paripurna kondisi kesehatannya,” ucapnya.

Terpisah, psykolog Tim NU Peduli Rakimin, S.Psi., M.Si. didampingi Koordinator NU Peduli Lombok Anik Rifqoh mengatakan, secara umum psykologi sosial korban gempa Lombok yang dikunjungi dan diobservasi masih normal serta interaksi psyko sosialnya juga masih berjalan dengan baik.

“Kasus traumatik sebelum dan sesudah gempa tidak terlalu nampak di beberapa tempat yang di-assesment NU Peduli,” kata Rakimin.

“Ketakutan terhadap gempa ataupun efek-efek kehilangan materi atas gempa itu ternyata intens mereka bicarakan bersama, meskipun mereka semua menjadi korban sebelum psyko sosial itu muncul. Maka konten trauma healing psyko sosial yang dilakukan, harus membangkitkan kesadaran inter personalnya secara baik,” sela Anik Rifqoh.

Dijelaskan, dalam berbagai kasus trauma healing pada korban bencana alam yang pernah dilakukan, akan lebih efektif jika didahului dengan bantuan kemanusiaan.

“Hal ini wajar karena para korban bencana alam memiliki harapan terhadap setiap orang yang punya kepedulian terhadap nasibnya,” paparnya.

Menurutnya, dalam kasus korban gempa di Lombok, orang tua jauh lebih sulit proses penyembuhannya untuk therapi trauma healing-nya dibanding anak-anak.

“Untuk kasus orang tua ini, tim trauma healing NU Peduli tidak menyatukan para orang tua itu untuk di-therapi, tapi didatangi satu persatu. Hal ini karena orang tua memiliki ego yang kuat. Meskipun dia butuh, tapi tidak mau mengungkapkan problemnya jika harus disatukan,” ungkapnya.

“Kita biasanya mencari celah dan kesempatan ketika ada pasien dewasa tidak berkerumun di tenda, saat itulah kita ajak ngobrol dan eksplorasi uneq-uneqnya melalui metode katarsis,” tutupnya. (TN-04)

Related Articles

Back to top button