Ekonomi

Disdag dan Polda Turun Kroscek Harga Terpal, Walikota dan Paguyuban Marga Tionghoa Keluarkan Imbauan

Mataram, Talikanews.com – Sejak beberapa hari terakhir pasca gempabumi 7 SR yang melanda Lombok. Viral harga terpal yang semula seharga Rp 160 ribu ukuran standar, melonjak menjadi Rp 700 ribu bahkan Rp 1 juta. Hal itu membuatnya Dinas Perdagangan Provinsi NTB dan Polda turunkan tim kroscek kebenaran oknum penjual yang diduga mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Andayani dikonfirmasi menyampaikan, pada hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2018 pukul 15.00 Wita, telah dilaksanakan pemantauan sebagai tindak lanjut viralnya berita di media sosial terkait kenaikan harga terpal pasca gempa bumi lombok.

Pemantauan dilaksanakan oleh tim Satgas Pangan terdiri Pelaksana tugas Kepala Bidang PDN Dinas Perdagangan, Lalu Suparno beserta staf, Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Lalu Alwan Basri beserta Kabid dan Kasi serta Satgas Pangan Polda NTB.

Dimana, pemantauan mulai dari Toko Indoplast, Komplek Pertokoan Mandalika Jalan Sandubaya Blok F/7 Bertais Kecamatan Sandubaya Kota Mataram. Saat itu, langsung diterima pemilik yakni Adi dan Hariyanto.

Pemilih justru menerangkan bahwa benar telah menjual 1 buah terpal ukuran 10×10 dengan harga Rp. 1.500.000, sesuai nota yang tersebar. Terpal yang dijual tersebut adalah terpal tebal peruntukan untuk fuso/truck dengan harga Rp. 15.000,- per meter (harga normal seperti sebelum bencana gempa).

Hal ini sudah dijelaskan kepada pembeli karena terpal biasa yang harga Rp. 5.000,- per meter dan terpal sedang yang harga Rp. 10.000,- per meter habis stok. Saat ini stok terpal semua jenis habis dan telah memesan lagi, diperkirakan Senin atau Selasa baru tiba dengan kwalitas biasa.

“Sebenarnya yang viral harga semula murah tapi, dikasih mahal itu tidak benar. Pengakuan pemilik, menjual sesuai harga sebenarnya,” ungkap Selly, Sabtu (10/8).

Selly melanjutkan, pemantauan kedua di Toko Cakra Buana, Jalan Selaparang nomor 39 Cakranegara Kota Mataram, diterima oleh pemilik Fujiadi menjelaskan, beberapa hari ini hanya menjual terpal tebal dengan harga Rp. 15.000,- per meter, karena stok terpal biasa yang harga Rp. 5.000, sampai Rp. 6.000,- per meter habis.

Harga penjualan terpal masih normal seperti sebelum gempa, cuma karena banyaknya permintaan stok terpal habis. Sehingga, penjual pun mengaku, tidak pernah menjual terpal ukuran 5×6 dengan harga Rp. 60.000,- karena harga stabil dari sebelum gempa Rp. 5.000,- per meter.

“Jadi harga normal terpal biasa ukuran 5×6 Rp. 150.000,- dan yang tebal Rp. 450.000,-,” papar dia.

Pada kesempatan itu, tim juga memberikan arahan agar pedagang tidak menaikkan harga pasca gempa bumi lombok dan bersama-sama membantu masyarakat dengan menyediakan barang dengan harga yang wajar sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru yang dapat mengganggu Stabilitas Kamtibmas.

“Viralnya harga terpal yang dianggap terlalu tinggi dan disebar melalui media sosial merupakan harga normal sesuai dengan standart kwalitas terpal dan pedagang tidak ada yang menaikkan harga pasca bencana gempa bumi lombok,” ujar dia sembari mengatakan, sudah dulu ya, mau melaksanakan ibadah haji.

Disatu sisi, Walikota Mataram H Ahyar Abduh justru mengeluarkan imbauan nomor 0452/1164/DAG VIII/2018, kepada distributor dan retail modern untuk memperhatikan agar toko tetap buka demi memenuhi jeni masyarakat.

“Khusus pasar swalayan, pasar modern yang membuka gerainya 24 jam, agar kembali di buka 24 jam. Kemudian, menambah jumlah persediaan barang terutama kebutuhan logistik sebagai akibat gempabumi lombok,” pesannya.

Yang terpenting lanjutnya, tidak menaikkan harga barang sebagai akibat dari meningkatnya permintaan masyarakat.

Adanya surat himbau itu membuat pengurus paguyuban sosial marga tionghoa indonesia Provinsi NTB, Prajadi Agus Winaktu mengeluarkan himbauan bahwa, berkenaan dengan bencana gempabumi yang menimpa masyarakat Lombok NTB maka, atas nama paguyuban sosial marga tionghoa agar seluruh toko, kios dan lainnya yang beroperasi di Mataram untuk tetap menjaga kondusifitas usaha sehingga, segala kebutuhan korban gempabumi dan pengungsi supaya dapat dipenuhi.

Kemudian, tetap membuka usaha dagangan untuk memenuhi kebutuhan korban gempa dan pengungsi. Menjaga ketersediaan stok barang utamanya yang berkaitan dengan kebutuhan korban gempa sepertinya bahan makanan, minuman, obat-obatan, pakaian dan segala perlengkapan untuk penanganan korban gempa.

“Yang paling utama, tetap menjaga kestabilan harga dan mengupayakan potongan harga dari pabrik atau distributor atas barang yang berkaitan langsung dengan kebutuhan korban gempabumi,” pungkasnya. (TN-04)

Related Articles

Back to top button