Nasional

Gempa Lombok Sejarah Terbanyak Di Tahun 2018

Mataram, Talikanews.com – Sejak Minggu tanggal 29 Juli lalu, masyarakat Lombok, NTB telah dihebohkan dengan gempabumi berkekuatan 6.4 SR, berpusat di Kabupaten Lombom Timur. Guncangan gempa tersebut telah menelan belasan korban jiwa dan ribuan rumah milik masyarakat rusak.

Tidak berhenti sampai disitu, gempa susulan terus mengantui masyarakat dengan kekuatan berbeda. Hal itu membuat masyarakat terpaksa mengungsi ke tempat lebih aman demi keselamatan nyawa, bahkan masyarakat tidur ditenda-tenda pinggir jalan.

Selang beberapa hari kemudian, pada hari yang sama Minggu (5/8), gempa berkekuatan lebih dahsyat 7.0 SR, guncang masyarakat Kabupaten Lombok Utara. Akibat gempa tersebut membuat ribuan rumah warga rata dengan tanah, fasilitas lainnya pun sama, telah menelan 98 korban jiwa , sebanyak 209 luka-luka dan ribuan hancur.

Bagi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, gempabumi yang melanda Lombok tersebut bisa dikatakan sejarah terbanyak guncangan Januari hingga Agustus di tahun 2018.

Menurut penjelasan Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Agus Riyanto menyampaikan, sejak gempa pertama tanggal 29 Juli 2018 hingga tanggal 7 Agustus pukul 13.00 wita, sebanyak 500 lebih terjadi gempa.

“Untuk tanggal 5 sampai 7 Agustus saja sebanyak 26 kali hingga pukul 15.00 wita dan untuk di NTB terbesar Magnitudonya,” ungkap dia, Selasa (7/8).

Dia mengatakan, potensi gempa susulan tetap ada hanya kekuatan melemah. Namun, kejadian gempa susulan serta kekuatan guncangan tidak bisa diprediksi karena itu kejadian alam yang tidak bisa dibaca alat maupun manusia.

“Untuk tahun 2018 ya terbesar sampai bulan Agutus,” katanya.

Jika dibandingkan kekuatan, gempabumi yang terjadi Sumatera Barat tahun 2009 dengan kekuatan 8.0 Skala Richter di lepas pantai Sumatera Barat pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa itu terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

“Artinya, gempa Lombok masih dibawah Padang, dengan waktu peluruhan gempa 7.0 kurang lebih 24 hari (3 mingguan, red),” tuturnya.

Agus menambahkan, kalau berdasarkan hitungan waktu peluruhan menggunakan data gempa-gempa susulan, interval 3 jam, 6 jam dan akan semakin baik jika banyak data.

Disatu sisi, data dari Badan Nasionalis Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data total yang meninggal dunia hingga saat ini sebanyak 105 orang, korban luka yang sedang mendapatkan perawatan sebanyak 236 orang.

“Kalau jumlah rumah rusak mencapai ribuan unit dan masih proses pendataan, ” ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Dia merincikan jumlah korban meninggal dunia sesuai asalnya, Kabupaten Lombok Utara sebanyak 78 orang, dari Desa Gondang Kecamatan Gangga 9 orang, Desa Sesait 5 Orang, Desa Santong Pansor Daya Kecamatan Kayangan 18 Orang, Desa Dangiang 10 orang, Desa Pemenang Kecamatan Pemenang 1 orang, Gili Matra 2 orang, Desa Gumantar 18 orang, Dusun Lengkuku 2 orang, Karang Lande 1 orang, Desa Menggala 7 orang, Masjid di Desa Lading-lading Kec. Tanjung 3 orang, di Puskesmas Tanjung 2 orang dan Luka-luka sebanyak 64 orang.

Kabupaten Lombok Barat meninggal dunia 16 orang dari Desa Gunung Sari 8 orang, Desa Narmada 1 orang, Desa Gerung 1 orang, Desa Batu Layar 4 orang, Desa Lingsar 2 Orang. Kabupaten Lombok Tengah meninggal dunia 2 orang dari Desa Pengadang 1 orang dan Desa Aik Berik Batu keliang 1 orang. dan Kota Mataram meninggal sebanyak 4 orang, Lingkungan Tinggar Kelurahan Ampenan 1 orang, Lingkungan kampung arab 1 orang, Kekurahan Pajang 2 orang dan luka berat 63 orang serta 8 orang luka ringan , sebanyak 37 orang dirawat di RS Siti Hajar.

Kabupaten Lombok Timur meninggal 3 orang dari Pohgading 1 orang, Desa pringga jurang kecamatan Montong gading 1 orang, Desa Perian, Kecamatan Montong Gading atas nama Novi Ramdani (11)

“Berdampak juga ke Provinsi Bali, meninggal dunia 2 orang, di RS Sanglah, Denpasar 1 orang, Denpasar 1 orang, Luka-luka 64 orang (Luka berat 21 orang, Luka ringan 43 orang),” papar dia.

Sutopo menyebutkan, semua korban yang meninggal dunia adalah warga negara indonesia, belum ada WNA meninggal dunia.

“Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh,” ujarnya.

Dia menambahkan, total yang sudah dievakuasi dari tiga gili sebanyak 4.636, rincian 3.673 ke pelabuhan bangsal, sebanyak 193 ke pelabuhan lembar dan 770 ke benoa. Kendala dan hambatan lanjutnya, listrik masih padam di Kabupaten Lombok Utara dan sebagian Lombok Timur.

Pemadaman terjadi akibat adanya beberapa infrastruktur jaringan dan gardu yang mengalami kerusakan.
Contohnya di Desa Anyar Bayan, Lombok Utara suasana masih gelap, Desa Madayin, Lombok Timur listrik juga belum menyala.

Ada Lima Jembatan rusak yaitu, Jembatan Tampes yang menghubungkan Kec. Bayan dengan Kecamatan Kayangan, Lokok Duren yang menghubungkan Kecamatan Kayangan dengan Kecamatan Gangga, Jembatan Luk, Jembatan Sokong yang mengalami kerusakan pada balok induk sepanjang 15 cm dan Jembatan Lokok Tampes.

Sutopo mengaku, belum ada sumber air untuk MCK, di Desa Obel-obel Kabupaten Lombok Timur mata air dan sumur menjadi kering pasca Gempabumi. Air PDAM menjadi keruh dan beberapa sumur bor berwarna kecokelatan.
Kegiatan perekonomian masih lumpuh total, masyarakat masih mengandalkan bantuan untuk urusan logistik. Layanan komunikasi sempat terganggu seperti telkomsel sempat terputus di Lombok Utara, XL juga melakukan pemulihan jaringan di Lombok Utara. Indosat yang masih dapat diakses dalam keadaan aman.(TN-04)

Related Articles

Back to top button