Pendidikan

Tak Terima Sikap Unram, Calon Mahasiswa Tempuh Jalur Hukum

Mataram, Talikanews.com – Belasan orang tua calon mahasiswa Universitas Mataram NTB akan melaporkan pihak Universitas lantaran, anak mereka sudah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa fakultas kedokteran tanggal 24 Juli melalui media online resminya. Hanya saja, tanggal 25 Juli tiba-tiba terjadi perubahan menyatakan, tidak lulus.

Kisruh pengumuman kelulusan tes jalur mandiri Unram ini dilatarbelakangi oleh adanya double pengumuman atau pengumuman kelulusan ganda yang dikeluarkan oleh Panitia Seleksi Penerimaan Calon Mahasiswa Unram melalui jalur tes mandiri 2018, yang dikeluarkan tanggal 24 Juli 2018 dan pengumuman yang dikeluarkan tanggal 25 Juli 2018.

“Kami dijadikan korban oleh pihak Universitas, itu lah sebabnya menempuh jalur hukum. Malah, akan sampaikan persoalan ini ke KPK juga Menristek Dikti, ” ancam salah satu keluarga calon mahasiswa bersama Taufik Hidayat, Senin (30/7).

Dia mengatakan, meski pihak Unram telah meminta maaf terhadap kesalahannya, namun orang tua wali tetap bersikukuh menuntut pihak Panitia dan Rektorat Unram agar kembali kepada pengumuman pertama yang dianggap sebagai pengumuman yang masih bersifat orisinil tanpa adanya intervensi dan rekayasa apapun.

Atas persoalan tersebut, orang tua mengadu ke pihak Ombudsman sebagai salah satu lembaga yang memiliki otoritas dalam mengadvokasi masalah pelayanan publik. Mereka pun mendapatkan dukungan dari pihak Ombudsman yang langsung turun melakukan pengecekan dan langkah klarifikasi dengan pihak Unram.

Bahkan saat itu, Ombudsman pun telah menyatakan bahwa persoalan ini mengandung potensi pelanggaran administrasi atau Mala Administrasi. Hanya saja,

Ombudsman tidak masuk ranah eksekusi kebijakan. Maka orang tua calon mahasiswa itu langsung konsolidasi dengan sejumlah advokat ternama di NTB.

“Kami akan tempuh jalur hukum baik di PTUN maupun upaya hukum pidana dengan melaporkan kasus ini ke pihak Polda NTB dan ke Bareskrim di Jakarta,” tegasnya.

Meski berencana akan melaporkan pihak Unram ke aparat Penegak Hukum dengan menghimpun sejumlah advokat ternama di NTB, Taufik Hidayat, juga mengatakan akan tetap mengintensifkan aksi-aksi protes melalui jalur non litigasi.

“Insya Allah setelah kami daftarkan laporan ini ke Polda NTB maupun ke Bareskrim di Jakarta, kami juga akan tetap melakukan gerakan apapun baik itu demo tiap hari atau demo tutup mulut,” ujar dia.

Yang jelas lanjutnya, akan memastikan gerakan formal melalui jalur litigasi jalan dan jalur gerakan massa melalui non litigasi tetap jalan sampai tuntutan diperhatikan oleh pihak Unram.

Taufik menambahkan, yang membuat orang tua calon mahasiswa naik pitam yakni adanya sikap wakil rektor III, terkesan menantang dengan datangi orang tua mahasiswa supaya tempuh jalur hukum.

“Saya juga heran, apakah kedatangan WR III itu atas perintah Rektor atau tidak, kami tidak tahu. Ada bahasa yang membuat kami terpaksa tempuh jalur hukum, ” paparnya.

Dipertegas Juliansyah, tetap menolak tawaran tes ulang tambahan kuota fakultas kedokteran untuk Lima orang karena dianggap percuma.

“Yang kecewa 19 orang, sementara kebijakan Unram Lima orang, jelas kami tolak dan kami merasa terpanggil atas sikap Unram untuk tempuh jalur hukum, ” tegas dia.

Lain halnya dengan Robi, merupakan pensiunan ASN, kecewa sikap Unram, karena tidak bisa tutupi kesedihan kluarga, apalagi sudah ada selamatan dari rekan-rekannya.

“Kami melangkah atas dukungan teman-teman pengacara luar daerah mengacu jika ada pengumuman Online, jelas itu resmi, ketika ada perubahan baru, bisa dikatakan tidak resmi,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Unram, Dr Lalu Husni mengaku sudah meminta maaf atas kesalahan tim IT Unram yang memposting panguman kelulusan yang masih belum final.

Unram juga memberikan kesempatan kepada calon mahasiswa untuk tes ulang dengan kuota Lima kursi yang tes itu nanti dikawal Ombudsman.

“Tim IT sudah menjelaskan terjadi error, dan meminta maaf, ” tutupnya sembari mengatakan, jika orang tua wali ingin tempuh jalur hukum, dipersilakan. (TN-04)

Related Articles

Back to top button