Politik

Rapat Pleno, Saksi dan Bawaslu Cecar KPU NTB

Mataram, Talikanews.com – Rapat pleno terbuka rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat berlangsung alot setelah para saksi dari pasangan calon dan Bawaslu mencecar sejumlah pertanyaan terhadap KPU NTB.

Rapat pleno yang dijaga ketat Polisi dan TNI itu berlangsung aman dan terkendali kendati sempat diwarnai aksi unjuk rasa di luar lokasi acara, yakni hotel Lombok Raya sejak pukul 10.30 Wita yang semestinya dijadwalkan pukul 09.00 Wita.

Dalam perhitungan suara berlangsung alot, sejak awal pembacaan rekapitulasi oleh 10 KPU kabupaten/kota di NTB secara bergantian.

Pembacaan pertama dimulai dari KPU Kabupaten Bima, Kota Bima, Dompu, Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa. Meski demikian, khusus di Lombok Barat dipilih dipending, dikarenakan surat suara DPT Pilgub dan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat tidak singkron dengan jumlah pemilihnya.

Berbagai pertanyaan disampaikan kedua saksi pasangan calon (paslon), yakni paslon Suhaili-Amin dan Ahyar-Mori kepada setiap anggota KPU. Pada pukul 13.00 Wita, pleno diskors selama satu jam. Kemudian dilanjutkan pukul 14.30 Wita dengan pembacaan rekapitulasi di Kabupaten Bima.

Sebelum pembacaan berlangsung, pihak saksi dari paslon Ahyar-Mori meminta KPU Kabupaten Bima, untuk mengecek total pengembalian formulir C-6 di wilayah Kabupaten Bima.

“Kami melihat tidak ada kesesuaian data dari daftar pemilih yang mengunakan KTP dan punya KTP. Angkanya, tak main-main khusus pengembalian surat suara berjumlah sebanyak 50.028 orang pemilih,” ujar Saksi Ahyar-Mori, Ali Usman Alkhairi

Tim Ahyar-Mori merasa ada kejanggalan dalam Pilgub kali ini, sehingga meminta untuk dibuka kotak suaranya. Sebab, ia mencurigai ada permainannya, dikarenakan form C-6 dikembalikan secara masive ke PPS sehari sebelum pencoblosan.

“Jika memang angka 50.028 itu ada dikembalikan ke PPS, maka perlu dibuka kotak suaranya. Jangan sampai, pernyataan KPU itu merujuk data PPK hanya bualan semata. Jadi, alat ukur pembuktiannya hanyalah dibuka kotak suaranya,” tegasnya.

Ketua KPU Kabupaten Bima, Yudin CN MH, mengakui umumnya pengembalian form C-6 itu, dikarenakan para pemilih lebih cenderung memilih pergi bertani ke sawah untuk menanam jagung dan bawang merah. 

“Bahkan, ada diantara mereka pergi ke luar daerah,” ungkapnya.

Mendengar hal itu. Ali pun lantas melontarkan pertayaan kepada KPU Bima, karena jawaban yang diberikan normatif, sehingga tidak sesuai dengan fakta yang pihaknya temukan.

“Jadi, program coklit anda gagal selama ini, jika yang mengembalikan form C-6 itu cukup tinggi angkanya,” tegas Ali yang juga Sekretaris DPD Gerindra NTB itu. 

Sementara itu, Bawaslu NTB menyayangkan, ulah KPU kabupaten/kota di NTB yang tidak mengindahkan rekomendasi Panwas di 10 kabupaten/kota. 

“Bagi kami, ini aneh. Ada pemilih yang memilih dua kali tapi dibiarkan. Selain itu, dibeberapa wilayah kita minta dilakukan pemungutan suara ulang (PSU), akibat perbedaan data pemilih antara Pilgub dan Pilkada Kabupaten. Diantaranya, di Lombok Barat tapi tak juga diindahkan,” tegas Khuwailid.

Karena itu, Bawaslu NTB tidak akan tinggal diam, meski rekapitulasi suara dapat dilanjutkan. Namun fakta di lapangan memang diduga hasil perhitungan suara banyak terjadi kejanggalan.

“Silahkan KPU melanjutkan proses rekapitulasi, tapi urusan pidana terkait pelanggaran hak konstitusi oleh penyelenggaranya akan kita adukan ke aparat penegak hukum,” tandas Khuwailid. 

Mendengar pernyataan itu, Ketua KPU NTB Lalu Aksar Anshori meminta komisioner KPU Bima menjelaskan terkait pengembalian form C-6 itu pada Bawaslu dan para saksi.

“Supaya klear dan tidak ada praduga yang tidak-tidak, pengembalian form C-6 harus dibuka alasannya kenapa?,” ujar Aksar.

Hingga pukul 17.50 Wita, rapat rekapitulasi penghitungan suara masih berlangsung, namun diskors hingga pukul 17.56Wita untuk melakukan penghitungan ulang suara Pilgub dan Pilbup Lobar 2018. (TN-04)

 

Related Articles

Back to top button