Daerah

Sejumlah Desa Di Loteng Mulai Krisis Air Bersih

Foto : ilustrasi krisis air bersih

Lombok Tengah, Talikanews.com – Warga yang berada di sejumlah desa di Kabupaten Lombok Tengah mulai krisis air bersih. Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng mengerahkan armada yang dimilikinya untuk mendistribusikan air bersih, memenuhi keperluan minum dan memasak warga.

“Sudah lima hari ini kami mulai mendroping air bersih,” ungkap kepala BPBD Loteng, H Muhammad, kemarin.

Awalnya kata Muhammad, pihaknya turun mendroping ke kecamatan Pujut, dilanjut Jonggat di desa Labulia dan Praya Timur. Ada sejumlah kecamatan dan desa yang akan juga dipasok air bersih, mengingat permintaan masih terus ada.

“Malah setiap hari kami sampai tiga tangki. Satu tangki mobil memiliki kapasitas 5.000 liter,” terangnya.

Ia menyebutkan, di Loteng tercatat ada 9 kecamatan dan 83 desa yang biasa terdampak krisis air. Hanya kecamatan Batukliang, Batukliang Utara dan Pringgarata yang tidak terdampak krisis air. Kemudian, dari 9 kecamatan itu, ada enam kecamatan yang paling besar membutuhkan air bersih, seperti kecamatan, Janapria, Praya Timur, Pujut, Praya Barat, Praya Barat Daya, Jonggat bagian selatan, seperti Sukarara dan Labulia.

“Untuk bulan ini kita masih dalam posisi siaga,” terangnya.

Kemungkinan terang Muhammad, kalau sudah masuk Agustus dan September, baru disana akan pada posisi tanggap darurat. Selain pasokan air bersih dari sumbernya sudah menipis, permintaan warga akan banyak.

“Untuk mengantisifasi hal ini, kami terus melakukan koordinasi dengan pemerintah Provinsi NTB,” jelasnya.

Kemudian, hingga kapan terjadi krisis air, ia katakan tergantung curah hujan. Bahkan, bisa sampai dua bulan atau tiga bulan. Sementara, stok air bersih tahun ini pihaknya sudah siapkan 220 tangki atau 1,1 liter air bersih.

“Kalau dilihat dari stok yang ada, sementara ini bisa mencukupi kebutuhan 6 kecamatan,” tandasnya.

Sementara, Direktur Teknik PDAM Loteng, L. Sukemi Ardhiantara mengaku debit air yang ada di sumber mata air, seperti Lempanas, Aik Bone, Benang Stokel serta WTP bendungan Batujai kini sudah terjadi penurunan yang signifikan. Itu terjadi musim kemarau.

“Malah yang lebih memprihatinkan WTP Bendungan Batujai yang penurunan sangat signifikan, sekarang saja elavasi air mencapai 72 meter dari biasanya 91 meter.

“Atas kondisi ini, sekarang kami gunakan sistem shift. Misalnya, kecamatan Pujut dapat dua hari, begitu pula di dua kecamatan itu,” terangnya.

Namun, untuk mengatasi musim ini, PDAM tidak tinggal diam. Artinya, bila ada warga sama sekali tidak pernah mendapatkan air, pihaknya langsung turun melakukan pendropingan air.

“Kalau sudah mendesak sama sekali, baru kami akan bantu air dengan tangki,” tungkasnya. (TN-03)

Related Articles

Back to top button