Daerah

Iskandar Jawab Keluhan Petani Tembakau Terkait Air dan Pupuk

Lombok Tengah, Talikanews.com – Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah, L Iskandar akhirnya menjawab keluhan petani tembakau, terkait kebutuhan air yang tidak terpenuhi dan kelangkaan pupuk, seperti urea dan SP36.

“Kalau persoalan air, disebabkan debit air kita sudah berkurang,” ungkap Iskandar.

Karena lanjut Iskandar, kini ini sudah masuk musim kemarau. Sehingga, persoalan air bukan hanya dirasakan petani tembakau saja, melainkan petani padi juga. Bahkan, kondisi sejumlah tanaman padi di Loteng terancam gagal panen.

“Kesepakatan kami, air yang ada saat ini kita peruntukkan untuk padi,” ujarnya.

Perlu diketahui kata Iskandar, sebenarnya belum semua petani menanam tembakau. Hanya sebagain kecil. Sehingga tidak terlalu parah. Itulah sebabnya air dipakai dulu oleh petani padi.

“Pupuk juga belum saatnya dipakai oleh petani tembakau,” katanya.

Apalagi mengatakan pupuk langka. Itu tidak benar. Kemudian, sampai beli hingga Rp 500 ribu perkuintal.

“Kalau non subsidi iya, harganya sampai Rp 500 ribu perkuintal. Tapi kalau petani yang masuk dalam RDDK tercatat mendapatkan subsidi, tidak akan beli sampai segitu,” tandasnya.

Sementara,  Amaq Jepri, Dusun Penyambat, Desa Beleka, Praya Timur mengatakan, sejauh ini ia tidak berani mananam tembakau. Karena, kondisi air yang tidak menjamin. Biasanya pula, setelah tanam padi, ia langsung tanam tembakau. Tapi melihat kondisi alam, ia tidak berani menanam tembakau. Apalagi, Dinas Pertanian tidak berani menjamin
Kelangsungan tanaman  tembakaunya nanti.

“Kalau dinas berani menjamin, kami akan tanam. Saat ini pula sudah masuk tanam tembakau,” terangnya.

Salah satu petani tembakau juga, Menan alias amaq Bian Dusun Rupe, Desa Beleka, Praya Timur mengeluhkan hal yang sama.

“Kalau saya sulit sekali mendapatkan pupuk. Padahal, saya masuk dalam RDKK. Kalau ada, itu pun harganya Rp 500 ribu dan terpaksan beli non subsidi,” jelasnya.

Sedangkan, ketua LSM Forum Silaturrahmi untuk Advokasi Petani dan Petani Tembakau (Forsuadsip) NTB, Hamzan Wadi merasa kecewa atas statment Kepala Dinas Pertanian Loteng.  Karena statment itu tidak layak diucapkan.

“Saya ingin tanya Kadis Pertanian, apakah tanam padi saat ini masuk program nasional atau tidak?,” tanyanya.

Sepengetahuannya kata Hamzan, kini sudah tidak masuk program tanam padi. Melainkan masuk musim tanam tembakau.

“Lantas, kenapa air dialihkan ke petani padi,” ujarnya.

Kemudian, terkait pupuk, ia meminta Kadis Pertanian untuk turun mengecek kondisi dilapangan. Bahkan, ada salah satu petani masuk dalam RDKK, namun tetap beli pupuk seharga Rp 500 ribu. Itu disebabkan terjadinya kelangkaan.

“Saya juga tantang Kadis Pertanian untuk membedah terkait dengan RDKK. Karena disana terindikasi penuh permainan,” tungkasnya. (TN-03)

Related Articles

Back to top button