Hukum & Kriminal

Dampak Pengeboman Gereja di Surabaya, Polda NTB Tingkatkan Patroli

Mataram, Talikanews.com – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat mulai meningkatkan pengamanan dan patroli rumah ibadah pasca aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Kabid Humas Polda NTB AKBP I Komang Suartana menyampaikan, saat ini Polda melakukan penambahan penjagaan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Penjagaan di laksanakan oleh Brimob dan sabhara polda dengan meningkatan patroli di tempat ibadah dan keramaian.

“Saya imbau agar masyarakat tidak takut dan mari bangkit melawan teroris, bekerjasama dengan aparat keamanan, ” ungkapnya, Senin (14/5).

Dia mengatakan, peningkatan pengamanan rumah ibadah untuk mengantisipasi segala bentuk aksi yang dapat merugikan masyarakat. Tidak hanya di rumah peribadatan, peningkatan pengamanan juga dilakukan di pusat-pusat perbelanjaan, termasuk objek vital yang ada di wilayah NTB. Demikian pula dengan lokasi pariwisata menjadi atensi pengamanan.

“Pada intinya rumah ibadah dan tempat keramaian. Pola pengamanan yang dilaksanakan tidak hanya penjagaan saja, patroli lapangan juga lebih diintensifkan,” kata dia.

Komang mengaku, dalam giat pengamanan pasca aksi teror di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi, pihak kepolisian tidak hanya bekerja sendiri. Dari pantauan wartawan di lapangan, personel TNI juga turut membantu pihak kepolisian dalam melakukan penjagaan dan patroli.

“TNI juga turut membantu kita di lapangan,” ujarnya.

Intinya lanjut dia, masyarakat NTB jangan panik dan takut pasca aksi teror yang terjadi di Surabaya. Malah, diharapkan masyarakat untuk ikut serta membantu dan mendukung peran aparat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.

“Jika ada yang mencurigakan segera lapor ke aparat. Jangan takut dengan teror, mari kita lawan bersama, ” terangnya.

Disatu sisi, Wakil ketua DPRD Provinsi NTB, H Abdul Hadi justru menyarankan supaya pemerintah daerah segera rancang peraturan daerah yang mengatur dan perkataan keberadaan terorisme.

” Jika sekarang buat perda, saya yakin tidak telat untuk antisipasi kejadian yang tidak kita inginkan, ” ujarnya.

Menurut politik PKS NTB itu, sikap pengeboman di Surabaya dinilai tidak beradab. Karena, semua agama tidak ada yang mengajarkan seperti itu. Khusus untuk NTB, harus diantisipasi sedini mungkin. Pemerintah dan stakeholders kerjasama dengan pihak lakukan pendekatan dimana titik – titik yang selama ini disebut ada jaringan terorisme atau sel-sel teroris yang tertidur seperti di Bima dan Dompu.

“Saya minta badan yang punya urusan, harus petakan titik itu, lakukan pendekatan dan pantau sedini mungkin,” tutupnya. (TN-04)

Related Articles

Back to top button