Ekonomi

Praktik ‘Nakal’ Penyaluran Pupuk Terbongkar

Lombok Tengah, Talikanews.comPenyelewengan pupuk subsidi memang rentan terjadi. Namun, praktik nakal itu terbongkar, setelah salah satu Distributor membeberkan tempat seringnya terjadi permainan pupuk.

Direktur PT Ilham Tani, H Ilham menjelaskan, permainan harga maupun penjualan ke tempat lain biasanya dilakukan ditingkat bawah, paling rentan di kelompok tani. Namun, yang bermain di kelompok yakni ketuanya. Karena, dia (ketua kelompok) merasa punya uang, sehingga berani berbuat hal sedemikian.

Selain ketua kelompok, biasanya juga rentan terjadi di tingkat pengecer. Namun, bagi pengecer yang dibawahinya, bila ditemukan bermain, ia tidak segan-segan memecatnya.

“Sekarang saja ada satu saya akan pecat,” tegasnya.

Sehingga, jangan sampai semua persoalan yang terjadi selalu disalahkan distributor. Kalau distributor, tupoksinya mendistribusikan pupuk ke pengecer sesuai dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang diberikan dinas Pertanian.

Tapi, perlu diketahui RDKK yang diberikan biasanya tidak matching atau sesuai dengan fakta yang terjadi dilapangan. Untuk itu, ia mempertanyakan keabsahan dari RDKK itu. Karena, bila salah jumlah, salah mencatat orang di dalam RDKK, itu pasti akan menjadi temuan.

“Yang disalahkan selalu saya nantinya. Ini yang saya tidak mau,” ucapnya.

Oleh sebab itu, ia sarankan sebaiknya mengacu pada SPPT, karena di SPPT itu jelas tertera jumlah luas lahan dari petani. Kalau sekarang cetus Ilham lagi, luas lahan petani masih diragukan. Karena, ketika dilakukan pendataan, pasti petani tidak mau menyebut luas lahannya sedikit, otomatis mereka menyebut dalam jumlah besar. Sebab, mereka takut akan mendapatkan kekurangan pupuk. Sehingga, jumlah besar itulah yang dinaikkan di RDKK.

“Malah ini menjadi sumber masalahnya, karena merasa mendapat lebih, maka mereka menjual ke tempat lain, seperti yang terjadi penangkapan di Lombok Timur beberapa waktu lalu,” katanya.

Sementara, Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Loteng, L Hamdi Iskandar mengatakan, semua ini terjadi juga karena cara penyaluran yang dilakukan distributor dinilai kurang tepat. Pasalnya, distributor jadikan satu paket, baik pupuk subsidi dan non subsidi dalam penyaluran ke pengecer. sehingga, bagaimana tidak terjadi tumpang tindih atau permainan dalam pupuk itu.

“Jadi kami minta distributor tidak satukan pupuk subsidi dan non subsidi dalam penyalurannya,” pintanya.

Kemudian, ia berharap baik kepada dinas Pertanian maupun stakholder lainnya agar bersama-sama melakukan pengawasan dengan maksimal. Sehingga, hal-hal yang terjadi, seperti, kekurangan pupuk, masalah harga bisa teratasi.

“Intinya jangan kita rugikan dan menyulitkan petani,” tungkasnya. (TN-03)

Related Articles

Back to top button