DaerahEkonomi

Disdag Pantau Stok Beras

Mataram, Talikanews.com – Dinas Perdagangan Provinsi NTB, terus memantau Kementerian Perdagangan agar rencana import beras tidak masuk ke wilayah NTB karena, daerah dikenal pulau seribu masjid sudah ditetapkan surplus beras dan tidak ingin menyusahkan petani.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Hj Putu Selly Handayani menyampaikan, sangat menghargai usaha petani di NTB. Sehingga terus memantau keberadaan beras supaya tidak masuk ke NTB.

“Padahal di NTB rata-rata harga beras dibawah HUT,” ungkapnya, Minggu (15/1).

Dia mengaku, impor beras itu juga berdasarkan keputusan pemerintah mengeluarkan izin impor sebanyak 500 ribu ton beras lewat PT Perusahaan Perdagangan Indonesia/PPI (Persero).

Sementara, Perusahaan Umum (Perum) Bulog yang selama ini punya peran menjaga stabilitas harga beras, termasuk melalui operasi pasar.

“Mungkin di daerah yang bukan surplus beras. Kalau di NTB kan sudah surplus beras. Saya rasa tidak mungkin masuk di NTB. Daerah lain beras medium harga jauh diatas HET kita malahan dibawah HETSatgas Pangan dari Polda NTB juga turun langsung ke pasar rakyat, “kata dia.

Selly menegaskan, sebenarnya sangat tidak setuju. Akan tetapi, mau bilang apa kalau itu sudah dilaksanakan. Namun, untuk di NTB sendiri, ia terus memantau Bulog agar tidak sampau meminta beras impor masuk di NTB.

” Jangan sampai Bulog minta tambahan beras ke pusat. Tapi itu agak susah kalau tidak ada surat dari Gubernur, “ujarnya.

Mantan pejabat Walikota Mataram itu memaparkan bahwa pada hari Sabtu tanggal 13 Januari 2018, Disdag bersama tim telah melakukan pengecekan lapangan terhadap harga 11 komoditi pangan strategis di tingkat pengecer / pedagang pada pasar-pasar tradisional di Wilayah Prov. NTB yaitu di Pasar Tanamira Taliwang, Pasar Raya Amahami, Pasar Dasan Agung, Pasar Tanjung, Pasar Tente Sila, Pasar Bawah, Pasar Seketeng, Pasar Gerung,  Pasar Umum Pancor dan Pasar Renteng.

Dari hasil pengecekan, maka harga rata-rata dan stok  minggu ke-2 bulan Januari 2018 terhadap 11 komoditi pangan strategis, yaitu beras remium seharga Rp. 10.700, untuk Medium Rp.9.100 sedangkan stok sebanyak 27,217 Ton.

Untuk komoditas Kedelai Lokal Harga Rp. 8.650/ kg sedangkan stok sebanyak 130 Ton. Cabe Rawit harga Rp. 35.000/ Kg, stok  sebanyak 7,750 Ton. Bawang Merah Harga Rp. 21.100/ Kg stok sebanyak 25 Ton. Komoditi Jagung pipil Harga Rp.4.250/kg
Gula pasir Harga Rp. 12.600/ Kg, stok sebanyak 18,5 Ton. Minyak Goreng Harga Rp.13.350/ltr stok yang curah sebanyak 30 Ton dan Kemasan sebanyak 23.131 dus. Untuk Terigu Harga : Rp. 6.650/ Kg dan Stok sebanyak 210 ton
Komoditi Daging Sapi Segar Harga Rp 106.500/Kg dengan stok sebanyak 15, 750 Ton. Daging Ayam Harga Rp 39.800/ Kg dan stok sebanyak 7,5 Ton dan untuk Telur Harga Rp 1.500/butir kemudian stok 70 Ton.

Dari hasil pemantauan dan laporan satgas pangan Polres jajaran terhadap harga bahan pokok di masing-masing  Kabupaten / Kota,  maka khusus untuk beras, harga rata-rata  untuk wilayah NTB masih di bawah harga HET, yaitu : Beras Premium seharga Rp. 10.700/kg (HET Rp. 12.800/kg) dan Beras Medium : Rp 9.100/kg (HET : Rp. 9.450/kg)

Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi naiknya harga beras, maka Bulog Divre NTB tetap melaksanakan Operasi Pasar untuk beras medium dengan harga Rp. 9.000/kg di beberapa wilayah Kab/ Kota.

“Secara keseluruhan, harga rata-rata bahan pokok di wilayah NTB masih relatif normal dan  stok bahan pokok masih mencukupi kebutuhan masyarakat wilayah NTB, “cetus dia.

Dia menambahkan, sebelumnya sudah menggelar operasi pasar beras ke Lombok Tengah. Kemungkinan besok senen OP beras bakal digelar ke Lotim. (TN-04)

Related Articles

Back to top button