Pemerintahan

BPTP : Lombok Tengah Diharapkan Sebagai Sentral Produksi Kedelai

Lombok Tengah, Talikanews.com – Kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu penghasil produksi kedelai terbesar di NTB setelah Kabupaten Bima.

Kepala BPTP NTB, Dr. Ir. M Saleh Mokhtar mengatakan, Lombok Tengah merupakan kontributor kedua penghasil produksi kedelai terbesar di Provinsi NTB setelah Bima. Dan bila dilihat dari luas tanam, selisihnya pun tidak terlalu jauh dengan Bima. Bila dilihat angka luas tanam dari BPS, Lombok Tengah di tahun 2015 luas tanam mencapai 27.424 Ha dan tahun 2016 mencapai 24.368 Ha. Sedangkan Bima, ditahun 2015 sebanyak 28 ribu Ha dan tahun 2016 sebanyak 29 ribu Ha.

“Perbandingan hanya sedkit saja,” kata M Saleh Mokhtar pada  kegiatan temu lapang inovasi teknologi produksi dan perbenihan kedelai spesifik lokasi mendukung UPSUS swasembada kedelai di Provinsi NTB di Desa Ubung, Rabu (27/9).

Untuk itu, kedepan Lombok Tengah diharapkan akan menjadi sentral produksi kedelai, kalau bisa melampaui Bima. Apalagi, dilihat dari luas tanam masih memadai. Selain itu, petani Loteng juga sangat respon terhadap pembaruan terhadap teknologi.

“Loteng punya potensi luar biasa besar bila dilihat dari segi luas lahan dan segi SDM petani untuk mengembangkan komoditi kedelai,” terangnya.

Sehingga itulah sebabnya pihaknya lebih banyak menempatkan kegiatan di Loteng. Seperti kegiatan produksi benih sumber yang dilakukan di desa Ubung saat ini. Kemudian sekolah lapang kedaulatan pangan dalam mendukung desa mandiri benih yang ditempatkan juga di kecamatan Jonggat.

“Kami juga di Loteng kini sedang melakukan pendampingan pengembangan kawasan pertanian nasional untuk tanaman kedelai dengan menyiapkan teknologi dalam peningkatan produktivitas kedelai dengan pendekatan konservasi air,” jelasnya.

Sementara tambah Saleh Mokhtar, NTB merupakan sentra produksi kedelai (Glycine max) terbesar ketiga nasional. Produksi Kedelai di NTB mencapai 97.171 ton dari luas panen 68.896 Ha pada tahun 2016. Jadi kita punya peran strategis dalam mendukung swasambada kedelai, sebagai gambaran luas tanam kedelai di NTB, tahun 2015 sebanyak 94.948 Ha dan tahun 2016 agak turun sedkit 84. 587 Ha serta tahun 2017 naik lagi mencapai 1006 Ha.

“Di NTB rata-rata produksi sebesar 1,3 sampai 1,4 ton/ha. Padahal potensi kedelai kalau menggunakan inovasi akan mencapai 2.5 – 3.5 ton/ha,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Asisiten II Sekda Lombok Tengah, H Masrun yang mewakili Bupati Loteng, HM Suhaili FT mengatakan, Loteng sebagai Kabupaten yang memimiliki luas lahan pertanian yang terbesar di Provinsi NTB. Sehingga Loteng memliki tantangan untuk memenuhi kecukupan produksi dan peningkatan pendapatan serta kesejahteraan petani. Apalagi pembangunan pertanian di Loteng masih menjadi prioritas terbesar dalam menyumbang pendapatan bagi masyarakat dan pemerintah daerah yang bisa dilihat dari besarnya kontribusi sektor pertanian dalam PDRB yaitu sekitar 26,3 persen.

Oleh karena itu, pengelolaan bidang pertanian mutlak diperlukan baik melalui kegiatan ekstensifikasi, intensifikasi maupun dipersifikasi pertanian. Apapun sasaran pembangunan pertanian khsusnya pertanian tanaman pangan tiga komoditas utama padi, jagung dan kedelai diarahkan pada tumbuhnya SDM petani yang berkompeten, terepunihnya sarana prasarana pertanian yang memadai dan tersedianya teknologi pertanian.

Sehingga, secara umum telah terjadi peningkatan luas tanam tanaman kedelai ditahun 2017. Karena semua itu berkat adanya bantuan social baik berupa benih subsidi dan dukungan sarana dan prasarana lainnya. Dan sinergitas antara pemerintah, swasta dan masyarakat dalam rangka meningkatkan produktifitas tanaman kedelai harus tetap di pertahankan dan juga tetap ditingkat dalam setiap aspek, baik ditingkat hulu maupun sampai ketingkat hilir, baik ditingkat produksi maupun ditingkat pemasaran.

“Jadi atas semua itu, kami ucapkan kepada BPTP NTB atas segala kerjasamanya selama ini,” ungkapnya.

Karena, atas kerjasama yang telah dilakukan, baik dalam memperkenalkan teknologi pemberdayaan kedelai mak telah meningkatkan produktifitas kedelai, seperti yang telah dilaporkan yakni kini Loteng menghasilkan kedelai sebanyak 13, 35 kwital perhektar dari sebelumnya hanya mencapai 11, 35 kwintar per hektar.

“Kami berharap agar teknologi ini dapat dikembangkan diseluruh wilayah di Loteng,” harapnya.

Sehingga sasaran tanam, sasaran panen, sasaran produksi tahun berikutnya bisa lebih ditingkatkan lagi dengan catatan bahwa harga jual kedelai memberi keuntungan bagi petani. Karena kunci tepat atau lambatnya diadopsinya suatu teknologi jika memberikan keuntungan yang dirasakan petani. Dan sampai saat ini hasil rekomendasi teknologi spesifikasi lokasi belum banyak ditindaklanjuti dalam bentuk yang konkrit. (TN-03)

Related Articles

Back to top button